Pojokan 288: HORMATI Sampah

Semua orang pasti punya kecendrungan untuk berhaluan kiri, kanan atau tengah-tengah. Sebab soal haluan itu macam makanan kesukaan. Orang tak bisa dipaksa untuk harus berhaluan kiri, atau kanan atau tengah-tengah.
Yang tidak boleh adalah yang tak berhaluan. Sebab kalau tak berhaluan, macam layangan putus, melayang tak jelas ke mana. Hanya mengikuti angin berhembus.
Begitupun dengan pandangan, tak bisa memaksa orang untuk punya pandangan yang sama. Semua orang punya pandangannya masing-masing. Bergantung pada Dimana bumi di pijaknya dan kepentingannya.
Kalau kebetulan dia sedang memijak bumi sambil berdiri di atas rumah, tentu melihat ayam jago seperti burung. Atau Ketika dia berpijak sambil nangkring di dahan pohon petai, tentu melihat ayam betina, enak untuk dibuat opor ayam campur petai.
Pokoknya soal pandangan itu, orang bisa tak sama dan tak mesti sama. Namun yang tak boleh adalah tak menghormati pandangan orang. Apalagi mementingkan pandangan sendiri.
Tak jauh beda soal penghargaan. Orang memandang perlu menghargai jasa-jasa pahlawan, berprestasi, orang yang menolong sesama dan segala hal yang bermanfaat perlu dihargai. Namun tak banyak orang punya rasa HORMAT terhadap sampah.
Kebanyakan orang, memandang sampah itu hal tak berguna. Sehingga betul-betul bisa dibuang disembarang tempat. Dipinggir jalan, diselokan, dikali. Pokoknya dimana ada ruang kosong, disitulah sampah bersemayam. Soal menghasilkan persoalan baru, umumnya orang memandang “itu bukan urusan gue”.
Padahal ada walikota yang terancam empat tahun penjara, gara-gara tak sanggup menyelesaikan persoalan sampah yang menggunung berilang bulan. Gara-gara warganya memandang sampah yang dibuang ya bisa sembarang dimana saja. Asal ada tumpukan sampah, ya disitulah sampah berlabuh.
Ah memang soal sampah itu tak sama pandangannya. Warga yang buang sampah berkilah, tak ada tempat sampah di lingkungan dan tak ada management pengelolaan sampah yang baik. Pemerintah berdalih, volume sampah melebihi kapasitas penampungan ahir sampah. Akibat warga yang buang sampah sembarangan.
Kota Tangerang Selatan saja mencapai 1 juta ton lebih. Pun banyak kota tak memiliki TPA (Tempat Penampungan Ahir) sampah.
Ada lagi yang melihat problem sampah akan tetap hadir, manakala tak ditanamkan sejak dini penghargaan terhadap sampah. Dan itu dilakukan melalui edukasi di lembaga pendidikan dan di rumah. Dua-duanya tak banyak dilakukan oleh pemangku kebijakan.
Ujung kata, semua persoalan sampah dan turunannya serta dampak bencana yang ditimbulkannya, akan tetap hadir, mengalir, membanjiri dan kembali kepada kita manakala “Kita tak belajar menghargai sampah”.
Sayangnya banyak orang yang tak gelisah, ketika membuang sampah atau melihat sampah berserakan. Sebab mereka yang tak waras akan berkata “EGP, emang gue pikirin”. (Kang Marbawi, 180126)
