Dosen POLSUB Dorong Kemandirian Ekonomi Siswa Disabilitas lewat Hidroponik dan Simping

PURWAKARTA — Politeknik Negeri Subang (POLSUB) menggagas langkah pemberdayaan anak penyandang disabilitas melalui keterampilan yang dekat dengan kebutuhan ekonomi.
Tidak berhenti pada pelatihan bercocok tanam, kampus vokasi tersebut mendorong siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Yakalimu, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, mengolah hasil panen hidroponik menjadi produk pangan bernilai tambah.
Gagasan yang mendapat dukungan dan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) itu diwujudkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Transformasi Kemandirian Ekonomi Anak Penyandang Disabilitas melalui Produksi Hidroponik Berkelanjutan dan Inovasi Produk Simping Sayur Bergizi”.
Program tersebut digagas dan dilaksanakan tim dosen POLSUB yang terdiri atas Wiwik Endah Rahayu, Nuridha Fauziyah, dan Nur Candra Dana Agusti. Dalam pelaksanaannya, POLSUB menggandeng Kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Wanasari untuk memperkuat pendampingan serta dukungan sarana dan prasarana.
Ketua tim pengabdian POLSUB, Wiwik Endah Rahayu, mengatakan program tersebut dirancang untuk menjawab salah satu persoalan yang masih dihadapi penyandang disabilitas, yakni keterbatasan akses terhadap pelatihan keterampilan yang relevan, kontekstual, dan aplikatif.
Bagi POLSUB sebagai perguruan tinggi vokasi, persoalan tersebut menjadi ruang untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dosen agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kami meyakini bahwa sebagai bagian dari warga negara yang memiliki hak yang sama, anak penyandang disabilitas berhak memperoleh akses terhadap pendidikan, keterampilan, dan peluang ekonomi yang mendukung kemandirian dan kesejahteraan,” ujar Wiwik.
Salah satu fokus utama program adalah meningkatkan kemampuan produksi hidroponik di SLB Yakalimu menggunakan sistem Nutrient Film Technique (NFT). POLSUB tidak hanya memperkenalkan teknologi tersebut, tetapi juga mendorong adanya pola perawatan yang lebih terjadwal sehingga kapasitas produksi dapat ditingkatkan.
SLB Yakalimu saat ini memiliki instalasi hidroponik NFT dengan 120 lubang tanam serta instalasi sistem irigasi tetes (drip irrigation) sebanyak 32 polybag. Pada instalasi NFT, siswa menanam sayuran seperti pakcoy dan selada dengan masa tanam sekitar 20–25 hari.
Setiap bulan, siswa didampingi tenaga pengajar untuk melakukan panen dan mencoba memasarkannya kepada masyarakat sekitar.
Namun, hasil evaluasi tim POLSUB menunjukkan produksi masih belum optimal. Dari 120 lubang tanam yang tersedia, belum seluruhnya berhasil dipanen. Dalam data tiga bulan terakhir, jumlah lubang tanam yang berhasil dipanen paling banyak mencapai 111 lubang.
“Diperlukan strategi perawatan sistem hidroponik yang baik dan terjadwal untuk meningkatkan kapasitas produksi hasil tanam,” kata Wiwik.
Persoalan berikutnya adalah pemasaran. Sayuran segar hasil panen belum seluruhnya terserap pasar. Akibatnya, pada kondisi tertentu, hasil panen dibagikan kepada siswa dan tenaga pengajar. Bagi tim PkM POLSUB, kondisi tersebut bukan sekadar kendala, tetapi juga menjadi dasar untuk mengembangkan inovasi produk.
Tim pengabdian POLSUB kemudian memperkenalkan pendekatan lain. Hasil panen hidroponik tidak harus selalu dipasarkan sebagai sayuran segar. Sayuran tersebut dapat diolah menjadi produk pangan dengan masa simpan dan nilai jual yang lebih tinggi.
Pilihan yang dikembangkan adalah simping sayur bergizi, camilan yang telah dikenal sebagai salah satu produk khas Kabupaten Purwakarta. “Kami melihat kendala pemasaran hasil sayuran segar dapat diatasi dengan pemasaran dalam bentuk inovasi produk sayuran lainnya.
Salah satunya sayuran segar yang diolah menjadi simping,” jelas Wiwik.
Dalam skema yang dikembangkan POLSUB, proses pemberdayaan dibuat berkesinambungan. Siswa tidak hanya belajar menanam, tetapi juga diarahkan memahami tahapan setelah panen. Mulai dari pengolahan bahan, penggunaan mesin pembuatan simping, pengemasan, hingga pemasaran menjadi bagian dari keterampilan yang diperkenalkan.
POLSUB juga memfasilitasi teknologi mesin pembuatan simping yang mudah digunakan oleh penyandang disabilitas. Peralatan tersebut diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran sekaligus menjadi aktivitas produktif bagi siswa.
“Demi meningkatkan daya jual, simping sayur akan dikemas secara modern dan dipasarkan secara aktif. Ini dapat mendukung proses pengembangan kemandirian anak penyandang disabilitas,” tutur Wiwik.
Dosen POLSUB, Nuridha Fauziyah, mengatakan program tersebut memiliki sasaran yang lebih luas dari sekadar peningkatan kemampuan produksi hidroponik. Menurutnya, POLSUB ingin membangun rangkaian keterampilan yang saling terhubung, mulai dari produksi bahan baku hingga produk siap dipasarkan.
“Kami membekali anak penyandang disabilitas dengan keterampilan peningkatan kapasitas produksi hidroponik berbasis NFT, memanfaatkan hasil sayur hidroponik menjadi simping, serta keterampilan pengemasan dan pemasaran untuk meningkatkan nilai tambah produk,” ujarnya.
POLSUB juga mendorong penguatan kapasitas kewirausahaan lembaga SLB melalui pengembangan unit usaha berbasis pertanian dan pangan. Dengan demikian, hasil pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Sekolah diharapkan memiliki model kegiatan produktif yang dapat terus dikembangkan bersama siswa maupun alumni.
Untuk memastikan program berjalan secara berkelanjutan, POLSUB menggandeng PKK Desa Wanasari. Kemitraan tersebut menjadi bagian dari strategi POLSUB untuk memperluas jejaring pendampingan sekaligus memperkuat implementasi kegiatan di lapangan.
Ketua Tim Penggerak PKK Desa Wanasari, Enung Kurniati, mengatakan pihaknya turut mendukung upaya meningkatkan kapasitas produksi hidroponik di SLB Yakalimu. “Fokusnya agar 100 persen lubang tanam yang dimiliki dapat dipanen dengan kualitas sayur yang baik melalui perawatan terjadwal dan nutrisi yang mencukupi,” kata Enung.
Menurut Wiwik, kerja sama tersebut juga memberikan akses terhadap konsultasi teknis serta sarana dan prasarana pendukung yang relevan. “Melalui kemitraan ini, kami melakukan konsultasi teknis serta memperoleh akses terhadap sarana dan prasarana pendukung yang relevan. Kerja sama ini akan memperkaya implementasi pelatihan, meningkatkan kualitas pendampingan, serta meningkatkan inklusivitas dan jangkauan layanan pemangku kepentingan daerah,” jelasnya.
SLB Yakalimu memiliki 82 peserta didik, terdiri atas 54 laki-laki dan 28 perempuan, dengan rentang pendidikan mulai PAUD hingga SMA. Para siswa memiliki beragam kebutuhan khusus, antara lain tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, tunaganda, dan autisme.
Sekolah yang telah terakreditasi A itu sebelumnya telah mengembangkan sejumlah program keterampilan vokasional. Salah satu yang menonjol adalah unit konveksi tata busana yang menghasilkan produk serta menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan.
Kepala SLB Yakalimu, Siti Masitoh, S.Pd., mengatakan kegiatan vokasional juga melibatkan siswa aktif dan alumni sehingga memberikan pengalaman pembelajaran yang produktif.
Masuknya bidang hidroponik dan pengolahan pangan, menurut dia, memberikan alternatif baru bagi pengembangan keterampilan siswa.
“Kami merasa terbantu dengan adanya tim dosen dari POLSUB.Secara tidak langsung, sekolah kami bisa meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif, dan melanjutkan pengembangan infrastruktur,” ujar Siti.
Bagi POLSUB, program tersebut merupakan bagian dari peran perguruan tinggi vokasi dalam menghadirkan solusi yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat. Wiwik mengatakan pendidikan vokasional bagi penyandang disabilitas perlu terus dikembangkan agar tidak hanya berorientasi pada keterampilan konvensional, tetapi juga mempertimbangkan potensi ekonomi dan kebutuhan masyarakat.
“Keterampilan yang sesuai dengan potensi dan kondisi riil mereka sangat dibutuhkan untuk menjembatani transisi dari lingkungan sekolah ke dunia kerja atau kehidupan bermasyarakat yang lebih mandiri,” katanya.
Melalui hidroponik dan simping, POLSUB mencoba membangun mata rantai sederhana namun konkret: menanam, memanen, mengolah, mengemas, dan memasarkan.
Rangkaian tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi tumbuhnya kemandirian ekonomi siswa penyandang disabilitas sekaligus memperkuat posisi SLB sebagai lingkungan pendidikan yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membekali peserta didiknya dengan keterampilan produktif untuk masa depan.
