33 Tahun jadi Honorer di Subang, Wangsih Akhirnya Jadi P3K

PASUNDANEKSPRES.ID - Konsisten dalam menjalankan tugas mengabdi menjadi guru honorer selama tiga puluh tahunan dijalani dengan penuh rasa tanggungjawab, dedikasi yang tinggi dan tak kenal lelah. Mendidik anak anak sekolah dasar, agar pandai membaca, menulis dan menghitung (Calistung).
Dialah salah satu pahlawan tanpa tanda jasa di Hari Guru Nasional ini, Wangsih SPd mengajar di SDN Pangsor sejak tahun 1992 sebagai guru honorer, jadi hingga saat ini sudah sekitar 33 tahunan.
Lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) tahun 1989, dan lulus di STKIP (sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan) tahun 2012 ini, terus berjalan meski sempat berhenti kemudian melanjutkan kembali mengabdi mengajar menjadi honorer di SDN Pangsor, hingga akhirnya perjuangan tak kenal menyerah dan lelah itu berbuah hasil, diangkat menjadi P3K tahun 2022.
"Saya mulai mengajar tahun 1992, tekad menjadi pendidik
karena pada dasarnya saya suka dengan anak - anak, saya ingin mendidik dan mengajar anak - anak supaya lebih pintar, bisa membaca, menulis dan berhitung," kata Wangsih saat ditemui Pasundan Ekspres di sekolah tempat ia mengajar.
Dikatakannya, sebuah contoh saja, pada kelas bawah anak - anak yang belum bisa membaca, menulis dan berhitung, tentu tak mudah untuk menjadi paham dan bisa, harus sabar, seperti mendidik anak sendiri.
"Mereka yang kelas bawah kan biasanya belum lancar membacanya, seperti saya ini kan ngajar di kelas 3, kita dampingi dan latih secara terus menerus sampai akhirnya mereka bisa Calistung, itu adalah kebanggaan dan kebahagian tersendiri," tuturnya.
Perjalanan sekitar puluhan tahun dilaluinya tak terasa sudah 33 tahun, suka dan duka pun kerap menghampiri, tetapi tak membuat surut semangat, tetap mengabdi, mengajar, mendidik anak anak, bukan hanya soal akademik saja, tetapi membangun karakter mereka menjadi anak yang soleh, sopan santun dan berbakti kepada orang tuanya.
"Saya kira menjadi pendidik itu kan bukan hanya bikin anak pintar, tapi juga karakter mereka juga harus dibangun, menjadi anak yang cerdas, sehat dan soleh," imbuhnya.
Selanjutnya, meskipun menjadi guru honorer, tetapi dirinya merasa disamakan dengan guru yang PNS, tidak dibedakan untuk fasilitas di sekolah sama saja punya hak
dan tanggungjawab yang sama.
Namun dibalik itu , ada perbedaan dalam segi finansial (gaji) mungkin kurang, selama honorer dari tahun 1992 sampai sekarang. Pernah ikuti tes cpns namun tidak lolos karena kuota kebutuhan saat itu. Kemudian baru tahun 2022an diangkat jadi PPPK.
"Ya seperti itu suka dukanya, tapi tetap dijalani, hingga akhirnya jadi P3K, syukur alhamdulillah," ujar Wangsih SPd alumnus STIKIP Subang.
Momentum di Hari Guru Nasional ini, harapannya ingin menambah ilmu dan mengembangkannya di dalam kelas (kegiatan belajar mengajar) kepada peserta didik.
Lebih banyak diadakan pelatihan - pelatihan untuk guru, agar lebih dapat memajukkan pembelajaran di sekolah, meningkatkan kualitas pembelajaran untuk mencapai kualitas pendidikan yang paripurna.
Wangsih Ibu tiga anak ini, juga berhasil mendidik anak anaknya, anaknya yang ketiga masuk Poltek Kes Bandung baru lulus tahun ini dan anak kedua yang lain sudah berkeluarga, anak keduanya alumni IKIP Bandung dan mengajar di sekolah di Bandung.(dan/ded)
