Gerbang Sunyi Itu Bergemuruh: Mahasiswa “Mengetuk” Gerbang Lembur Pakuan dengan Kekecewaan

SUBANG - Ketika sore belum sepenuhnya reda, suasana di depan gerbang Lembur Pakuan mendadak berubah. Kamis (19/2/2026), puluhan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi yang sarat kekecewaan, menjadikan kawasan yang identik dengan ketenangan itu sebagai panggung protes terbuka.
Aksi yang berlangsung di wilayah Subang, Jawa Barat tersebut bukan tanpa alasan. Massa aksi secara tegas menyuarakan kritik terhadap Kepala Dinas Bina Marga dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang dinilai abai, tertutup, dan tak kunjung merespons kritik publik.
Dengan spanduk, poster tuntutan, serta orasi bergantian, para mahasiswa menyebut kekecewaan mereka telah lama terpendam. Kritik yang selama ini disampaikan melalui jalur formal dianggap tak membuahkan hasil. “Kami datang ke sini karena suara kami tidak pernah benar-benar didengar,” teriak salah satu orator di depan gerbang Lembur Pakuan.
Lokasi aksi menjadi sorotan tersendiri. Lembur Pakuan diketahui sebagai kediaman Dedi Mulyadi, sehingga kehadiran massa di titik tersebut dinilai sebagai simbol pesan langsung kepada pucuk pimpinan Jawa Barat.
Situasi sempat memanas ketika sejumlah warga dan aparat keamanan berjaga ketat di sekitar gerbang. Adu argumen tak terelakkan, namun aksi tetap berlangsung tanpa bentrokan fisik. Aparat kepolisian tampak mengawal jalannya demonstrasi untuk memastikan kondisi tetap kondusif.
Dalam tuntutannya, mahasiswa mendesak adanya keterbukaan, evaluasi kinerja, serta keberanian pejabat terkait untuk menjawab kritik masyarakat secara terbuka. Mereka menegaskan, aksi ini bukan yang terakhir jika sikap “diam” pemerintah terus dipertahankan.
Hingga aksi berakhir, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun dinas yang menjadi sasaran kritik. Gerbang Lembur Pakuan kembali tertutup, namun gema tuntutan mahasiswa masih terasa meninggalkan pesan bahwa kekecewaan publik tak bisa selamanya dibungkam
