Melawan Banjir 1,5 Meter, Warga Langgensari Antar Jenazah dengan Rakit Darurat

SUBANG, PASUNDANEKSPRES.ID – Melawan banjir yang tak kunjung surut di Dusun Langgensari, Desa Anggasari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Subang, kembali memperlihatkan wajah getir bencana. Di tengah genangan air setinggi 1,5 meter yang telah melumpuhkan aktivitas warga selama lebih dari sebulan, sebuah peristiwa memilukan terjadi.
Seorang warga bernama Darsinah mengembuskan napas terakhir setelah lama berjuang melawan sakit. Namun duka keluarga belum usai. Jalan menuju tempat pemakaman terendam banjir, kendaraan tak bisa melintas, sementara makam berada cukup jauh dari permukiman warga.
Tak ada pilihan lain. Di tengah keterbatasan, warga memilih bertindak.
Dengan bambu seadanya dan galon bekas air mineral, warga Dusun Langgensari merakit alat darurat untuk mengantarkan jenazah Darsinah ke tempat peristirahatan terakhir. Keranda dinaikkan ke atas rakit, sementara kurang dari 10 orang warga berjalan perlahan menembus air setinggi pinggang orang dewasa.
Ketua RT 09/02 Dusun Langgensari, Carsim, mengungkapkan bahwa situasi saat itu sangat menguras emosi warga.
“Kami sempat bingung. Jalan semuanya terendam, tidak mungkin dilalui. Akhirnya warga sepakat membuat rakit bambu agar jenazah bisa dibawa ke makam,” kata Carsim, Senin (2/2/2026).
Langkah demi langkah dilalui dengan penuh kehati-hatian. Arus air, kedalaman banjir, dan kondisi medan menjadi tantangan tersendiri. Namun semangat gotong royong membuat warga tetap bertahan hingga jenazah berhasil tiba di pemakaman.
“Prosesnya berjalan lancar, tapi sangat menyedihkan. Kami harus berjuang di tengah banjir untuk mengantar jenazah ke pemakaman,” tambah Carsim.
Momen pilu tersebut terekam kamera warga dan viral di media sosial. Video yang memperlihatkan keranda jenazah di atas rakit bambu memantik simpati luas dari masyarakat dan warganet.
Di balik viralnya peristiwa tersebut, tersimpan harapan besar warga Langgensari. Mereka meminta perhatian serius dari pemerintah untuk mengatasi banjir tahunan yang terus berulang. Letak geografis yang rendah membuat air mengendap lama setiap musim hujan tiba.
“Banjir ini bukan hanya menghambat aktivitas, tapi sudah menyentuh sisi kemanusiaan. Kami berharap ada solusi nyata agar kejadian seperti ini tidak terulang,” ujar Carsim.
Hingga kini, genangan air masih menutup sebagian besar wilayah Desa Anggasari. Aktivitas warga lumpuh total, sementara harapan akan surutnya banjir masih terus dinantikan
