Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Sejarah Pagaden Kabupaten Subang, Sudah Dikenal Sejak 1771 hingga Menjadi Kecamatan

F
Fahrizal Abdul MEditor: Dobi Maulana
|17:00 WIB
Bagikan:
Sejarah Pagaden Kabupaten Subang, Sudah Dikenal Sejak 1771 hingga Menjadi Kecamatan
Pagaden merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Subang yang memiliki perjalanan sejarah panjang, mulai dari pemerintahan lokal hingga perkembangan kawasan perkebunan pada masa kolonial. (Foto: Wikipedia)

PASUNDANEKSPRES.ID - Sejarah Pagaden Kabupaten Subang memiliki perjalanan yang cukup panjang dan berkaitan erat dengan perkembangan wilayah Subang sejak masa pemerintahan tradisional hingga era kolonial. Kawasan yang sekarang dikenal sebagai Kecamatan Pagaden ternyata telah tercatat dalam sejarah Subang jauh sebelum Kabupaten Subang terbentuk sebagai daerah otonom. 

Pagaden juga memiliki hubungan dengan perkembangan pemerintahan lokal, perubahan penguasaan tanah, serta perkebunan Pamanoekan en Tjiasemlanden (P&T Lands) pada abad ke-19. 

Saat ini Pagaden merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Namun, perjalanan wilayah tersebut tidak bisa dilepaskan dari berbagai perubahan politik dan administratif yang terjadi selama berabad-abad. 

1. Pagaden Sudah Dikenal Sejak 1771 

Salah satu catatan penting dalam sejarah Pagaden Kabupaten Subang berasal dari tahun 1771. 

Pemerintah Kabupaten Subang mencatat bahwa pada masa tersebut wilayah Subang berada di bawah pengaruh Kerajaan Sumedanglarang. Di kawasan Pagaden, Pamanukan, dan Ciasem tercatat adanya pemerintahan yang dipimpin seorang bupati secara turun-temurun.  

Catatan tersebut menunjukkan bahwa Pagaden bukan wilayah yang baru muncul setelah terbentuknya pemerintahan Kabupaten Subang modern. 

Nama Pagaden sudah memiliki posisi dalam struktur pemerintahan kawasan Subang pada abad ke-18. 

Periode tersebut juga memperlihatkan bahwa kawasan Subang memiliki sejarah politik yang cukup kompleks karena wilayahnya pernah berada dalam pengaruh sejumlah kekuatan, mulai dari kerajaan lokal hingga kekuatan kolonial Eropa. 

2. Jejak Kehidupan Masyarakat Bahkan Lebih Tua 

Sejarah Pagaden tidak hanya dimulai dari catatan pemerintahan tahun 1771. 

Pemerintah Kabupaten Subang juga mencatat adanya temuan kapak batu bercorak Neolitikum di wilayah Pagaden. Temuan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kawasan yang sekarang termasuk Kabupaten Subang telah dihuni kelompok masyarakat sejak masa prasejarah. 

Masyarakat pada periode tersebut diperkirakan telah mengenal kehidupan bercocok tanam dengan pola yang masih sederhana. 

Dengan demikian, jika dilihat dari perspektif sejarah yang lebih panjang, kawasan Pagaden berada dalam wilayah yang telah mengalami aktivitas manusia sejak masa jauh sebelum munculnya sistem pemerintahan modern. 

Namun, temuan prasejarah tersebut perlu dibedakan dari sejarah administratif Pagaden. Bukti arkeologis menunjukkan keberadaan manusia di kawasan tersebut, sedangkan catatan 1771 memberikan informasi mengenai posisi Pagaden dalam struktur pemerintahan pada masa itu. 

3. Pagaden dalam Perubahan Pemerintahan Masa Kolonial 

Memasuki abad ke-19, wilayah Subang mengalami perubahan besar akibat masuknya kekuatan kolonial dan perubahan sistem penguasaan tanah. 

Pada masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles, wilayah Subang dibagi ke dalam dua distrik, yaitu Distrik Ciasem dan Distrik Pamanukan. Pagaden termasuk wilayah yang berada dalam cakupan struktur tersebut bersama Sagalaherang dan Batu Sirap.  

Perubahan tersebut menjadi bagian dari reorganisasi pemerintahan di Jawa ketika Inggris menguasai Hindia Belanda pada periode 1811–1816. 

Pada periode yang sama, persoalan tanah menjadi semakin penting karena pemerintah kolonial membutuhkan pemasukan dan melakukan penjualan atau pemberian konsesi tanah kepada pihak swasta. 

Hal inilah yang kemudian membawa Pagaden ke dalam sejarah perkembangan perkebunan besar di kawasan Subang. 

4. Pagaden dan Munculnya P&T Lands 

Salah satu bagian terpenting dalam sejarah Pagaden Kabupaten Subang adalah hubungannya dengan Pamanoekan en Tjiasemlanden atau P&T Lands. 

Pada 1812, tanah Pamanukan dan Ciasem mulai berpindah ke tangan pihak swasta. Perkembangan penguasaan tanah tersebut kemudian melahirkan perusahaan perkebunan P&T Lands. Penelitian sejarah mengenai P&T Lands mencatat bahwa perusahaan tersebut berkembang menjadi salah satu perkebunan swasta besar di wilayah Subang.  

Wilayah P&T Lands sendiri sangat luas. Dalam perkembangannya, penguasaan lahan perusahaan tersebut mencapai sekitar 212.900 hektare dengan status hak eigendom pada masa kolonial.  

Pagaden kemudian menjadi salah satu wilayah yang mempunyai posisi penting dalam struktur pengelolaan kawasan tersebut. 

5. Pagaden Menjadi Salah Satu Kademangan 

Dalam perkembangan pemerintahan lokal di kawasan P&T Lands, wilayah perkebunan kemudian memiliki sejumlah pembagian administratif tradisional. 

Pagaden tercatat sebagai salah satu kademangan dalam struktur tersebut. 

Pembagian kademangan tersebut berkaitan dengan kebutuhan pengelolaan wilayah perkebunan yang sangat luas. Selain menjalankan fungsi administratif, para pejabat lokal juga berhubungan dengan masyarakat yang tinggal dan bekerja di kawasan perkebunan. 

Posisi Pagaden dalam struktur tersebut memperlihatkan bahwa wilayah ini bukan sekadar daerah yang dilewati aktivitas perkebunan, tetapi memiliki peran dalam pengelolaan masyarakat dan wilayah di dalam kawasan P&T Lands. 

Penelitian mengenai perkembangan P&T Lands juga mencatat bahwa penduduk bumiputra, termasuk keturunan dari lingkungan bangsawan Sumedang, pernah ditempatkan sebagai demang untuk membantu pengelolaan wilayah dan penarikan pungutan pada masa tanah partikelir.  

6. Perkebunan Mengubah Lanskap Subang 

Perkembangan P&T Lands membawa perubahan besar terhadap kawasan Subang. 

Perusahaan perkebunan tersebut tidak hanya mengelola lahan, tetapi juga membangun berbagai infrastruktur untuk mendukung kegiatan ekonomi. 

Pada masa perkembangan P&T Lands, berbagai komoditas perkebunan dikembangkan di kawasan Subang. Penelitian sejarah mencatat perkembangan tanaman seperti teh, karet, kina, kopi, dan komoditas lainnya dalam sejarah perkebunan kawasan tersebut.  

Pembangunan jalan, jembatan, kanal, perumahan pekerja, dan fasilitas pendukung perkebunan juga menjadi bagian dari perkembangan kawasan. 

Salah satu catatan sejarah bahkan menyebut adanya gagasan pembangunan kanal yang menghubungkan Pagaden dengan Pamanukan untuk membantu pengangkutan hasil perkebunan. 

Hal tersebut memperlihatkan bahwa posisi Pagaden juga berkaitan dengan jaringan transportasi dan pengelolaan hasil produksi di kawasan P&T Lands. 

7. Dari Wilayah Kolonial Menuju Kabupaten Subang 

Setelah melalui masa pemerintahan kolonial, struktur wilayah Subang kembali mengalami perubahan setelah Indonesia merdeka. 

Salah satu titik penting terjadi pada 1968, ketika Kabupaten Subang dibentuk melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1968. 

Dalam pembentukan Kabupaten Subang tersebut, Pagaden sudah tercantum sebagai salah satu kecamatan yang menjadi bagian dari kabupaten baru. Selain Pagaden, wilayah awal Kabupaten Subang juga mencakup Subang, Kalijati, Pamanukan, Binong, Pusakanagara, Cisalak, Ciasem, Purwadadi, Pabuaran, dan Sagalaherang.  

Artinya, secara administratif Pagaden sudah menjadi bagian dari struktur awal Kabupaten Subang sejak kabupaten tersebut dibentuk. 

Ini merupakan salah satu fakta penting ketika membahas sejarah Pagaden Kabupaten Subang, karena menunjukkan bahwa posisi Pagaden sebagai kecamatan bukanlah perkembangan yang baru terjadi belakangan. 

8. Pagaden dalam Administrasi Kabupaten Subang Modern 

Seiring perkembangan Kabupaten Subang, jumlah kecamatan dan desa mengalami perubahan. 

Pagaden tetap menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Subang dan saat ini memiliki luas sekitar 44,44 kilometer persegi. 

Data administrasi pemerintah daerah mencatat Kecamatan Pagaden terdiri atas 10 desa, yaitu: 

  • Desa Sumbersari 
  • Desa Gambarsari 
  • Desa Pagaden 
  • Desa Neglasari 
  • Desa Kamarung 
  • Desa Sukamulya 
  • Desa Gunungsari 
  • Desa Gembor 
  • Desa Gunungsembung 
  • Desa Jabong 

Data pemerintah daerah terbaru yang tersedia juga masih mencatat komposisi tersebut.  

Dengan demikian, Pagaden sekarang memiliki struktur pemerintahan yang jauh berbeda dibandingkan sistem kademangan pada masa kolonial. 

9. Sejarah Pagaden Tidak Hanya tentang P&T Lands 

Ketika membicarakan sejarah Pagaden Kabupaten Subang, P&T Lands memang menjadi salah satu bagian penting, tetapi sejarah wilayah ini sebenarnya memiliki lapisan yang lebih panjang. 

Setidaknya terdapat beberapa periode yang dapat dibedakan. 

Pertama, periode prasejarah yang ditandai dengan temuan kapak batu di wilayah Pagaden.  

Kedua, periode pemerintahan tradisional ketika Pagaden tercatat berada dalam lingkungan kekuasaan Sumedanglarang dan pada 1771 terdapat pemerintahan bupati secara turun-temurun di Pagaden, Pamanukan, dan Ciasem. 

Ketiga, periode kolonial ketika perubahan sistem pemerintahan dan penguasaan tanah membawa Pagaden ke dalam dinamika distrik dan perkebunan swasta. 

Keempat, periode P&T Lands yang membuat kawasan Pagaden terhubung dengan sistem perkebunan dan kademangan. 

Kelima, periode setelah kemerdekaan ketika Pagaden kemudian menjadi salah satu kecamatan dalam Kabupaten Subang. 

10. Pagaden sebagai Bagian dari Sejarah Panjang Subang 

Perjalanan Pagaden memperlihatkan bagaimana sebuah wilayah lokal dapat mengalami perubahan fungsi dan struktur pemerintahan berkali-kali. 

Dari kawasan yang telah dihuni manusia sejak masa prasejarah, Pagaden kemudian muncul dalam catatan pemerintahan tradisional, masuk dalam reorganisasi wilayah pada masa kolonial, terhubung dengan perkebunan P&T Lands, hingga akhirnya menjadi kecamatan dalam Kabupaten Subang. 

Menariknya, perkembangan tersebut juga menunjukkan hubungan erat antara pemerintahan, penguasaan tanah, pertanian, perkebunan, dan infrastruktur dalam membentuk wilayah Subang. 

Karena itu, sejarah Pagaden tidak dapat dilepaskan dari sejarah Kabupaten Subang secara keseluruhan. 

Sejarah Pagaden Kabupaten Subang dalam Ringkasan 

Jika dirangkum, sejarah Pagaden Kabupaten Subang memiliki beberapa tonggak penting. 

Masa prasejarah: ditemukan kapak batu bercorak Neolitikum di kawasan Pagaden, menjadi salah satu bukti keberadaan masyarakat awal di wilayah Subang.  

  • 1771: Pagaden, Pamanukan, dan Ciasem tercatat memiliki pemerintahan bupati secara turun-temurun ketika berada dalam pengaruh Sumedanglarang.  
  • Awal abad ke-19: Pagaden masuk dalam perubahan struktur pemerintahan kolonial dan cakupan distrik pada masa Raffles.  
  • 1812: perubahan penguasaan tanah Pamanukan dan Ciasem menjadi awal perkembangan P&T Lands yang kemudian memengaruhi kawasan Subang.  
  • Masa P&T Lands: Pagaden memiliki posisi sebagai salah satu kademangan dalam struktur pengelolaan kawasan perkebunan. 
  • 1968: Pagaden tercatat sebagai salah satu kecamatan awal yang masuk ke dalam Kabupaten Subang berdasarkan UU Nomor 4 Tahun 1968. 
  • Saat ini: Pagaden menjadi kecamatan di Kabupaten Subang yang terdiri atas 10 desa.  

Sejarah Pagaden Kabupaten Subang ternyata jauh lebih panjang daripada sekadar sejarah administratif kecamatan saat ini. 

Wilayah Pagaden telah meninggalkan jejak sejak masa prasejarah, kemudian memiliki posisi dalam pemerintahan lokal pada 1771, mengalami perubahan administratif pada masa kolonial, dan menjadi bagian dari perkembangan P&T Lands. 

Setelah Indonesia merdeka, Pagaden akhirnya masuk sebagai salah satu kecamatan dalam pembentukan Kabupaten Subang pada 1968. 

Jejak tersebut membuat Pagaden menjadi salah satu wilayah yang menarik untuk ditelusuri ketika membahas sejarah Kabupaten Subang. Perubahannya menunjukkan bagaimana sebuah kawasan dapat terus beradaptasi dari wilayah pemerintahan tradisional, kawasan perkebunan kolonial, hingga menjadi kecamatan dalam pemerintahan Kabupaten Subang modern. 

Berita Terbaru

Hanya Menunggu 4 Hari, Layanan Pengukuran Pertanahan Lebih Terukur, Teratur, dan Pasti

Hanya Menunggu 4 Hari, Layanan Pengukuran Pertanahan Lebih Terukur, Teratur, dan Pasti

Nasional5 jam lalu
Hadiri HUT ke-81 TNI, Wamen Ossy: Perjalanan Panjang Pengabdian dalam Menjaga Kedaulatan Bangsa

Hadiri HUT ke-81 TNI, Wamen Ossy: Perjalanan Panjang Pengabdian dalam Menjaga Kedaulatan Bangsa

Nasional5 jam lalu
MK Tolak Gugatan Syarat Pendidikan Gibran dalam Pilpres 2024

MK Tolak Gugatan Syarat Pendidikan Gibran dalam Pilpres 2024

Nasional5 jam lalu
Dapat Nomor 3, Asep Pulloh Siap Lanjutkan Jilid II Desa Kumpay

Dapat Nomor 3, Asep Pulloh Siap Lanjutkan Jilid II Desa Kumpay

Headline5 jam lalu
ADVERTISEMENT
Panitia Pilkades Wantilan Subang Soroti Akurasi Data Pemilih

Panitia Pilkades Wantilan Subang Soroti Akurasi Data Pemilih

Subang7 jam lalu
Kabel Udara di 63 Ruas Jalan Kota Bandung Sudah Diturunkan

Kabel Udara di 63 Ruas Jalan Kota Bandung Sudah Diturunkan

Bandung Barat7 jam lalu
Menteri PKP Larang Pungutan Bantuan Bedah Rumah, Subang Dapat 1.372 Unit

Menteri PKP Larang Pungutan Bantuan Bedah Rumah, Subang Dapat 1.372 Unit

Subang7 jam lalu
Stop Sugar Craving! Ini Lho Cara Kurangi Konsumsi Makanan Manis

Stop Sugar Craving! Ini Lho Cara Kurangi Konsumsi Makanan Manis

Lifestyle8 jam lalu
7 Tips Olahraga Saat Cuaca Panas Agar Tetap Aman dan Sehat

7 Tips Olahraga Saat Cuaca Panas Agar Tetap Aman dan Sehat

Lifestyle9 jam lalu
Cara Pakai QRIS ShopeePay dengan Mudah, Bayar Apapun Cukup Scan!

Cara Pakai QRIS ShopeePay dengan Mudah, Bayar Apapun Cukup Scan!

Lifestyle9 jam lalu