Tak Mampu Berobat, Buruh Tani di Subang Dua Tahun Sakit Usai Dipatuk Ular

PASUNDANEKSPRES.ID - Junaedi (46), buruh tani asal Desa Tenjolaya, Kecamatan Kasomalang, terpaksa menahan sakit selama dua tahun akibat patukan ular gibug, karena keterbatasan ekonomi membuatnya tak mampu melanjutkan pengobatan.
Akibat patukan tersebut, kondisi tangan Junaedi mengalami kerusakan serius dan hingga kini belum pulih.
Ia sebelumnya sempat menjalani perawatan intensif selama 70 hari di RS Hasan Sadikin Bandung, termasuk tindakan cangkok kulit dari bagian perut. Namun, hasil perawatan belum menunjukkan perkembangan berarti.
Keterbatasan biaya membuat Junaedi tidak dapat melanjutkan pengobatan. Kondisi itu memaksanya hanya beristirahat di rumah dan menahan rasa sakit, sekaligus kehilangan mata pencaharian sebagai buruh tani.
“Saya sangat menderita. Tidak bisa bekerja seperti dulu, sekarang hanya bisa berbaring dan menahan sakit,” ujar Junaedi kepada Pasundan Ekspres, Selasa (6/1/2025).
Saat ini, kebutuhan keluarga sepenuhnya bergantung pada sang istri, Sukaesih, yang bekerja serabutan dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu per hari. Pasangan ini memiliki tiga anak, satu di antaranya masih duduk di bangku MI kelas V.
“Penghasilan istri tidak menentu, sementara anak masih sekolah,” tuturnya.
Junaedi berharap ada perhatian dan bantuan dari pihak terkait agar dirinya dapat kembali berobat dan pulih. “Saya hanya ingin sembuh dan bisa bekerja lagi,” katanya.
Kondisi Junaedi kini membutuhkan penanganan lanjutan serta dukungan berbagai pihak agar beban ekonomi dan kesehatannya dapat teratasi. (hdi/ded)
