BRIN dan Bapperida Subang Sinergikan Riset HPI untuk Percepat Penanganan Stunting

PASUNDANEKSPRES.ID - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan audiensi strategis dengan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Subang untuk membahas implementasi riset pangan fungsional berbasis Hidrolisat Protein Ikan (HPI) pada Selasa (15/9/2026).
Audiensi tersebut menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antara riset dan kebijakan daerah, khususnya dalam menyediakan intervensi protein berkualitas tinggi untuk membantu menekan angka stunting pada anak bawah lima tahun (balita).
Pertemuan berlangsung di Ruang Rapat Bapperida Kabupaten Subang. Hadir langsung Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Satriyo Krido Wahono, S.T., Ph.D., bersama jajaran tim peneliti. Kedatangan rombongan BRIN disambut Sekretaris Bapperida Kabupaten Subang, Saanah Yulia, S.Sos., M.AP.
Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN
Dalam kesempatan tersebut, BRIN memperkenalkan ASIKA, produk inovasi pangan fungsional berbentuk serbuk yang dikembangkan oleh Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN. Produk ini dirancang untuk membantu meningkatkan asupan asam amino esensial secara cepat dan praktis, terutama bagi anak yang mengalami perlambatan pertumbuhan.
ASIKA memanfaatkan teknologi Hidrolisat Protein Ikan (HPI), yakni proses pemecahan molekul protein kompleks dari ikan laut menjadi senyawa yang lebih sederhana berupa peptida bioaktif berberat molekul rendah dan asam amino bebas melalui proses hidrolisis enzimatik.
“Kelebihan utama dari produk berbasis hidrolisat ini adalah daya cernanya yang sangat tinggi. Protein pendek atau peptida aktif ini jauh lebih mudah dan cepat diserap oleh dinding usus anak balita dibandingkan protein ikan biasa, sehingga efektif untuk memicu hormon pertumbuhan secara optimal,” ujarnya.
Menanggapi pemaparan tersebut, Sekretaris Bapperida Kabupaten Subang Saanah Yulia menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap inovasi pangan fungsional yang dikembangkan BRIN.
Menurutnya, kehadiran produk hasil riset dalam negeri menjadi langkah penting dalam memperkuat intervensi gizi berbasis bukti ilmiah atau evidence-based policy.
“Kami menyambut baik sinergi teknologi yang ditawarkan oleh BRIN. Salah satu tantangan terbesar dalam Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada balita stunting adalah penolakan dari anak karena faktor rasa atau perubahan kebiasaan makan,” ungkapnya.
Ia menilai karakteristik ASIKA yang fleksibel dan mudah larut dapat menjadi salah satu solusi praktis di lapangan. Produk tersebut dapat dicampurkan langsung ke dalam makanan pokok anak tanpa mengubah cita rasa secara ekstrem, sehingga diharapkan dapat membantu meningkatkan penerimaan makanan tambahan bagi balita.
Melalui audiensi tersebut, BRIN dan Bapperida Kabupaten Subang sepakat menyusun langkah strategis agar hasil riset ASIKA dapat segera diarahkan untuk mendukung program intervensi gizi spesifik di tingkat daerah. Sinergi tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya hilirisasi riset sekaligus memperkuat penanganan stunting di Kabupaten Subang.
Hilirisasi inovasi berbasis HPI ini juga diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumber daya kelautan nasional untuk mendukung pemenuhan kebutuhan protein dan mencetak generasi yang sehat, cerdas, serta bebas stunting.(znl/ysp)
