Disdikbud Subang Akselerasi Tiga Pilar Pendidikan Jenjang SD

PASUNDANEKSPRES.ID - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Subang terus memperkuat implementasi tiga pilar pendidikan di jenjang Sekolah Dasar (SD), yakni sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter bagi seluruh peserta didik.
Kepala Bidang Pembinaan SD Disdikbud Kabupaten Subang, Apud Setiawan, mengatakan bahwa penerapan tiga pilar pendidikan saat ini berada pada fase akselerasi.
Menurutnya, kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, sekolah, keluarga, dan dukungan sektor swasta menjadi faktor penting dalam keberhasilan program tersebut.
“Secara keseluruhan, implementasi tiga pilar pendidikan di Kabupaten Subang saat ini berada pada fase percepatan. Sinergi antar pihak harus terus diperkuat agar kebijakan ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh siswa di dalam kelas,” ujarnya kepada Pasundan Ekspres saat dihubungi, Selasa (12/5/2026).
Ia menjelaskan, Disdikbud Subang memandang sekolah tidak hanya sebagai tempat berlangsungnya proses belajar formal, tetapi juga sebagai pusat kolaborasi. Dalam konsep ini, keluarga berperan memberikan dukungan emosional dan pemenuhan gizi, sedangkan masyarakat menghadirkan nilai budaya serta dukungan sumber daya.
Untuk memperkuat pelaksanaan program tersebut, Disdikbud Subang telah meluncurkan sejumlah program strategis. Program-program ini dirancang tidak hanya meningkatkan prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter siswa dan memperkuat infrastruktur pendidikan.
Adapun program unggulan yang telah dijalankan antara lain Inovasi Kurikulum Berbasis Ekologi dan Kearifan Lokal melalui Sekolah Adiwiyata, digitalisasi manajemen dan pembelajaran, penguatan karakter dan kesejahteraan siswa, serta transformasi kompetensi tenaga pendidik.
Implementasi Tiga Pilar Pendidikan Masih Menghadapi Sejumlah Kendala
Meski demikian, implementasi tiga pilar pendidikan masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah kesenjangan infrastruktur digital, terutama di wilayah pelosok Subang yang belum seluruhnya memiliki akses internet stabil dan perangkat pendukung pembelajaran berbasis teknologi.
“Pemerintah daerah terus mempercepat distribusi bantuan laptop dan proyektor melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dan APBD Kabupaten untuk mengurangi kesenjangan tersebut,” katanya.
Kendala lainnya adalah keterbatasan anggaran rehabilitasi sarana dan prasarana sekolah. Untuk mengatasinya, sekolah didorong mengoptimalkan penggunaan dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) dalam kegiatan pemeliharaan dan perbaikan fasilitas.
Selain itu, tantangan lingkungan sosial seperti perundungan (bullying) dan dampak negatif media sosial juga menjadi perhatian serius. Disdikbud telah membentuk Satuan Tugas Anti-Perundungan di tingkat sekolah yang melibatkan tokoh masyarakat dan aparat desa.
Bahkan, Kepala Disdikbud Subang telah menyusun buku pendamping bagi siswa dan guru bertajuk Serunya Teman Sebaya sebagai bagian dari program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN).
Apud menegaskan, keberhasilan pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada guru.
Ia berharap orang tua mampu melanjutkan penguatan karakter di rumah, seperti nilai kejujuran, disiplin, dan etika, sekaligus menyediakan waktu 15 hingga 30 menit setiap hari untuk mendampingi anak membaca atau berdiskusi tentang aktivitas sekolah.
“Dengan dukungan aktif orang tua dan masyarakat, kami optimistis visi pendidikan berkualitas di Kabupaten Subang pada tahun 2029 dapat terwujud,” pungkasnya.(znl/ysp)
