Gubernur dan Bupati Tolak Budidaya Tebu, Sependapat Kawasan Teh dan Nanas di Subang Selatan Dipertahankan

PASUNDANEKSPRES.ID – Gubernur dan bupati tolak budidaya tebu. Penolakan terhadap budidaya tebu di kawasan Subang Selatan kini datang dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Dia menegaskan penolakannya terhadap penanaman tebu di kawasan perkebunan teh Ciater hingga siap mengganti uang sewa Rp1 miliar yang telah dibayarkan kepada PT Perkebunan Nusantara (PTPN).
Sebelumnya, Bupati Subang Reynaldy Putra Andita Budi Raemi sejak awal menyatakan keberatan terhadap alih fungsi lahan teh dan nanas di wilayah selatan. Bupati juga mendorong agar kawasan tersebut tetap dipertahankan sesuai karakter ekologisnya.
Dalam acara pengukuhan DPP Apindo Jawa Barat, Jumat (26/6/2026), Dedi Mulyadi mengungkapkan dirinya siap mengganti uang sewa yang telah dibayarkan pengusaha kepada PTPN agar penanaman tebu di kawasan Ciater dihentikan.
"Menu yang dibuat oleh PTPN di daerah Ciater diizinkan ditanamin tebu. Saya bilang, salah. Nggak, nggak bisa. Saya sampai pada mengambil keputusan, 'Udah deh'. Itu kan sudah setor, terus dia bilang pengusahanya sudah bayar 1 miliar rupiah ke PTPN uang sewa. Udah deh, saya yang bayar. Tarik!" kata Dedi.
Menurut Dedi, keberadaan perkebunan teh di kawasan Ciater memiliki fungsi ekologis yang tidak dapat dipandang hanya dari sisi ekonomi. Ia menilai kawasan tersebut berperan menjaga ketersediaan air, menahan tanah, serta menopang keberlangsungan kawasan di sekitarnya.
"Kalau tidak ada teh, hotel-hotel di Puncak, Lembang, dan Ciater juga tidak akan bertahan. Teh itu menahan tanah dan menjaga air. Kita setiap hari bicara krisis air, tapi hulunya justru dirusak," ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana mengembalikan sekitar 100 hektare lahan yang telah ditanami tebu agar kembali menjadi areal perkebunan teh.
Sikap Gubernur Jawa Barat tersebut sejalan dengan pernyataan Bupati Subang Reynaldy Putra Andita yang sebelumnya menyampaikan keberatannya terhadap rencana alih fungsi lahan perkebunan teh dan nanas di wilayah selatan.
Menurut Reynaldy, kawasan selatan Subang memiliki karakteristik ekologis yang harus tetap dipertahankan sehingga tidak tepat dialihkan untuk komoditas lain.
"Saya sudah ngobrol dengan Pak Gubernur, menyampaikan bahwa di atas itu sudah jangan diganggu, tetap jadi perkebunan nanas dan perkebunan teh karena memang ekosistemnya seperti itu. Jangan dipaksakan untuk hal-hal yang lain,"* ungkap Reynaldy.
Ia mengatakan telah berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Barat terkait penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Dalam pembahasan tersebut, kawasan perkebunan di wilayah selatan direncanakan akan diperjelas berdasarkan jenis komoditasnya agar tidak mudah dialihfungsikan.
"Pak Gubernur menyampaikan bahwa zona perkebunan di daerah atas akan dispesifikkan. Jadi jangan hanya disebut perkebunan secara umum, tetapi diperjelas perkebunan apa sehingga tidak melebar ke mana-mana," katanya.
Reynaldy juga menilai pengembangan komoditas tebu sebaiknya difokuskan di wilayah tengah Subang, seperti Purwadadi, Cipeundeuy, dan Cipunagara.
"Sudah lah tebu di daerah tengah saja, di Purwadadi, Cipeundeuy, Cipunagara. Jangan merambah ke atas," tegasnya.(hdi/cdp/ysp)
