Investasi di Subang Tinggi, Kesiapan SDM Perlu Disiapkan Serius

PASUNDANEKSPRES.ID - Truk-truk proyek terus melintas di jalanan menuju kawasan industri di Subang. Di sejumlah titik, lahan yang sebelumnya hamparan perkebunan bahkan pesawahan mulai berubah menjadi bangunan pabrik.
Arus modal datang deras ke wilayah yang kini menjadi bagian penting Kawasan Rebana, koridor ekonomi baru di Jawa Barat. Nilai investasi yang masuk ke Kabupaten Subang sepanjang 2025 tercatat mencapai Rp18,2 triliun.
Angka itu menjadikan Kabupaten Subang dan sebagai daerah paling diminati investor di kawasan Rebana. Pada triwulan pertama 2026 saja, realisasi investasi sudah mencapai Rp1,38 triliun.
Di tengah geliat itu, muncul satu kekhawatiran yang berulang kali disampaikan para pemangku kepentingan di daerah yakni kesiapan masyarakat lokal menghadapi ledakan industri.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Subang, Agus Prabanta, menyebut derasnya investasi di Subang harus dibarengi kesiapan daerah, terutama dari sisi sumber daya manusia dan infrastruktur.
Menurut Agus, investasi di Subang yang datang tidak hanya menghadirkan peluang ekonomi, tetapi juga tantangan besar bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Tanpa kesiapan yang memadai, manfaat investasi dikhawatirkan tidak akan sepenuhnya dirasakan warga lokal.
Subang kini berkembang menjadi salah satu pusat investasi baru di Jawa Barat. Kawasan industri terintegrasi seperti Subang Smartpolitan mulai diproyeksikan menjadi pusat industri tekstil dan manufaktur. Di saat bersamaan, sektor otomotif tumbuh lewat masuknya investasi kendaraan listrik dari VinFast.
Peluang Investasi di Subang Mulai Bergerak di Sektor Farmasi
Tak hanya itu, peluang investasi mulai bergerak ke sektor farmasi hingga pariwisata.
Agus menilai diversifikasi sektor penting agar pertumbuhan ekonomi daerah tidak bertumpu pada satu jenis industri semata.
Bagi Agus, kehadiran industri tersebut akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan aktivitas ekonomi masyarakat. Namun ia mengingatkan agar masyarakat Subang tidak tersisih di tengah arus investasi besar.
“Jangan sampai masyarakat kita hanya menjadi penonton. Kita harus siapkan SDM yang kompeten agar bisa terlibat langsung dalam ekosistem industri,” katanya.
Kekhawatiran serupa juga muncul dari Balai Latihan Kerja (BLK) Subang. Di tengah meningkatnya kebutuhan tenaga kerja industri, kapasitas pelatihan kerja di daerah masih terbatas. Kepala UPTD BLK Disnakertrans Subang, Syauqi, mengatakan pada 2026 pihaknya hanya memiliki satu program pelatihan yang bersumber dari APBD, yakni operator forklift.
Kuota peserta yang tersedia hanya 35 orang dengan anggaran Rp210 juta. Sementara jumlah pendaftar mencapai 1.856 orang.
Menurut dia, kebutuhan tenaga kerja terampil terus meningkat seiring berkembangnya kawasan industri baru di wilayah Rebana, khususnya sektor otomotif.
“Kami ingin calon tenaga kerja dari Subang memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Jangan sampai masyarakat kita hanya menjadi penonton di daerah sendiri,” katanya.
Syauqi mengatakan pelatihan kerja menjadi langkah penting agar tenaga kerja lokal mampu bersaing dan terserap industri. Namun hingga kini belum ada penambahan anggaran untuk memperluas program pelatihan.
Data DPMPTSP Kabupaten Subang menunjukkan realisasi investasi triwulan pertama 2026 berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri sebesar Rp616,4 miliar dan Penanaman Modal Asing Rp771,5 miliar.
JF PKPM Ahli Madya DPMPTSP Kabupaten Subang, Wulan Ramdhan Sari, mengatakan capaian tersebut telah memenuhi 30 persen target investasi tahun ini.
Menurut dia, secara keseluruhan investasi di kawasan Rebana pada awal 2026 mencapai sekitar Rp6,48 triliun. Capaian itu memperkuat posisi Subang sebagai salah satu tujuan utama investasi di Jawa Barat.
Wulan menyebut sejumlah faktor yang mendorong masuknya investasi, mulai dari pembangunan Pelabuhan Patimban, rencana konektivitas jalan tol, hingga pengembangan industri hijau melalui kerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA).
Namun ia menegaskan kesiapan sumber daya manusia lokal tetap menjadi faktor penting. “Kesiapan sumber daya manusia (SDM) lokal dalam menyerap tenaga kerja dari investasi yang masuk juga menjadi faktor penting,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Subang menyatakan mendukung penuh pengembangan kawasan Rebana. Bupati Subang Reynaldy mengatakan pemerintah daerah terus menjaga kondusivitas wilayah untuk mendorong iklim investasi.
“Pada prinsipnya, Pemerintah Daerah Kabupaten Subang mendukung dan selalu siap menyukseskan program Rebana,” ujar Reynaldy.
Ia mengatakan pemerintah daerah juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan provinsi untuk mendukung percepatan pembangunan akses menuju Pelabuhan Patimban.
“Secara prinsip, kami justru berkolaborasi dengan instansi vertikal untuk betul-betul menjaga kondusivitas,” katanya.(cdp/hdi/ysp)
