Kekeringan Melanda Purwakarta, Ribuan Warga Gelar Salat Istisqa di Tengah Suhu 38 Derajat

PASUNDANEKSPRES.ID - Ribuan warga, mulai dari anak-anak, orang dewasa hingga lanjut usia tampak memadati kawasan Alun-alun Taman Pasanggrahan Padjadjaran, Kabupaten Purwakarta, untuk melaksanakan Salat Istisqa, Rabu (16/9/2026) siang. Suasana di lokasi pada pukul 13.00 WIB terasa cukup terik, sinar matahari pun menyengat kulit. Saat itu, tercatat suhu cuaca mencapai 38 derajat celcius.
Meski demikian, warga tetap khusyuk mengikuti rangkaian Salat Istisqa yang digelar sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan di tengah kondisi kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Purwakarta.
Kekeringan dalam beberapa waktu terakhir berdampak terhadap kehidupan masyarakat. Mulai dari kesulitan mendapatkan air bersih, terganggunya aktivitas sehari-hari, gagal panen, hingga meningkatnya potensi kebakaran lahan.
Pelaksanaan Salat Istisqa dipimpin Ustadz Asep Fitriadi. Sementara itu, Ketua MUI Kabupaten Purwakarta, KH John Dien, menjadi penceramah dalam kegiatan tersebut.
Salat Istisqa Merupakan ibadah Yang Disyariatkan Dalam Islam
Kiai John Dien mengatakan Salat Istisqa merupakan ibadah yang disyariatkan dalam Islam dan hukumnya sunnah muakkadah, terutama ketika hujan tak kunjung turun dalam waktu yang lama.
Menurutnya, pelaksanaan salat tersebut merupakan bentuk ikhtiar manusia untuk memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan yang membawa keberkahan.
"Intinya memohon, mengetuk pintu langit untuk turunnya hujan," kata KH John Dien kepada wartawan saat dikonfirmasi.
Ia menegaskan, masyarakat tidak boleh memandang Salat Istisqa sebagai bentuk tuntutan agar hujan langsung turun setelah ibadah dilaksanakan. Sebab, waktu dikabulkannya doa merupakan kehendak Allah SWT.
"Jadi kewajiban kita ikhtiar. Dikabulkan kapan-kapannya itu urusan Allah Subhanahu wa Ta'ala," ujarnya.
Kiai John Dien berharap hujan segera turun di Purwakarta dengan intensitas yang membawa keberkahan dan dapat membantu masyarakat yang kini menghadapi dampak kekeringan. Akan tetapi, sambungnya, ikhtiar tersebut juga harus diiringi dengan upaya nyata manusia dalam menjaga lingkungan.
Ia mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan, tumbuh-tumbuhan, saluran air hingga kawasan pegunungan sebagai bagian dari upaya merawat ekosistem.
"Jadi intinya menjaga ekosistem, kebersihan lingkungan," ucap Kiai John Dien menambahkan.
Hal senada disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta, Sri Jaya Midan. Ia mengatakan kekeringan saat ini telah dirasakan di sejumlah daerah, terutama berkaitan dengan ketersediaan air untuk kebutuhan rumah tangga.
"Kekeringan terutama untuk ketersediaan air rumah tangga. Baik itu minum, cuci dan sebagainya. Beberapa daerah terjadi," kata Sri Jaya Midan.
Selain persoalan air bersih, lanjutnya, kondisi cuaca kering juga meningkatkan risiko kebakaran lahan di sejumlah wilayah. Karena itu, ia mengajak masyarakat tidak hanya berdoa memohon hujan, tetapi juga melakukan introspeksi dan bersama-sama menjaga alam.
Sementara itu, salah seorang warga yang mengikuti Salat Istisqa, Diah (39), mengaku kondisi kekeringan mulai dirasakan di lingkungan tempat tinggalnya.
Menurut Diah, air PDAM di rumahnya kini mengalir dengan debit yang lebih kecil. Bahkan, air yang keluar terkadang terlihat agak keruh.
"Iya, di Purwakarta di berbagai daerah sudah alami kekeringan. Di rumah saya juga sudah mulai kesulitan air. Air PDAM pun kini yang keluar agak kecil, bahkan sedikit kotor," ujar Diah.
Ia berharap Salat Istisqa yang diikuti ribuan warga tersebut menjadi salah satu bentuk ikhtiar bersama agar hujan segera turun di Purwakarta. "Berharap dengan ikut salat ini, menjadi upaya kita, ikhtiar kita agar bisa diturunkan hujan," ucap. Diah.(add/sep)
