Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

SUBANG DOELOE: Jalan Darmaga-Cupunagara Bagian Dari Sejarah Kolonial Subang

H
HubaEditor: Huba
|08:25 WIB
Bagikan:
SUBANG DOELOE: Jalan Darmaga-Cupunagara Bagian Dari Sejarah Kolonial Subang
PUNYA SEJARAH: Sejumlah content creator asal Subang saat membuat konten di Jalan Darmaga-Cupunagara, yang dulu dikenal sebagai Jalan Pedati yang membelah bukit.

SUBANG-Jalan Darmaga-Cupunagara di Desa Bukanagara, Cupunagara, Kecamatan Cisalak ternyata memiliki sejarah pada zaman kolonial Belanda. 

Jalan ini merupakan bagian dari Jalan Pedati yang memiliki panjang 10 km, mulai dibuka pada tahun 1847 dengan nama Jalan Pedati oleh Raden Rangga Martayuda atau dikenal sebagai Demang Batusirap dalam masa pemerintahan T. B. Hofland. Tugu prasasti yang ada di Bukanagara menandai pembangunan jalan ini. 

"Awalnya memang belum ada akses ke sana hingga akhirnya di pertengahan abad ke-19, mulai dibuka untuk kepentingan pembukaan perkebunan, salah satunya kopi," kata Dosen Pendidikan Sejarah Institut Pangeran Dharma Kusuma Anggi A. Junaedi.

Potongan jalan menuju Cisalak ini bahkan dibuat dengan membelah bukit kecil. Saat itu jalan memang dikhususkan untuk mengangkut hasil kopi. 

"Kopi dari Bukanagara dibawa ke Cisalak menggunakan gerobak yang ditarik oleh kerbau atau kuda," ucapnya. 

Penanaman kopi, teh, dan kina di daerah tersebut memang sudah cukup lama. Ketika tanggal 31 Desember 1799, VOC dinyatakan bangkrut, warga Belanda yang ada di Indonesia termasuk di Subang kemudian berlomba-lomba untuk membentuk usaha perkebunan teh kopi dan kina. 

Akhirnya terwujudlah sebuah perusahaan yang bernama Pamanoekan en Tjiasemlanden (P&T Land) yang dibangun oleh T. B. Hofland bersaudara pada tahun 1812 yang juga merupakan warisan dari VOC. 

Perusahaan inilah yang membangun Jalan Pedati. Hal ini dilakukan demi mencari suatu wilayah dataran tinggi yang berbentuk mangkuk dan dikelilingi oleh gunung-gunung, demi mendapatkan hasil bumi yang berlimpah di tanah Subang. 

Anggi mengatakan, besar kemungkinan jalan ini diperbaiki untuk akses mobil ke Bukanagara, terutama pada dasawarsa kedua abad ke-20. 

Jalan ini terakhir diperbaiki pada zaman Ruhimat saat menjabat sebagai Bupati Subang. Perbaikan dan pelebaran jalan tersebur dilakukan mulai dari tahun 2020 sepanjang 8,5 km, setelah itu kembali dilanjutkan pada tahun 2022 sepanjang 4,5 km.(fsh/ysp)

Berita Terbaru

Tarif Grab Terbaru Hari Ini, Ada Selisih 23,33% antara Bayaran Penumpang dan Pendapatan Driver

Tarif Grab Terbaru Hari Ini, Ada Selisih 23,33% antara Bayaran Penumpang dan Pendapatan Driver

Nasional9 jam lalu
Praperadilan Roy Suryo soal Ganti Rugi Rp206 Juta

Praperadilan Roy Suryo soal Ganti Rugi Rp206 Juta

Nasional10 jam lalu
Persiapan Pilkades Padaasih Capai 95 Persen

Persiapan Pilkades Padaasih Capai 95 Persen

Subang10 jam lalu
BRIN dan Bapperida Subang Sinergikan Riset HPI untuk Percepat Penanganan Stunting

BRIN dan Bapperida Subang Sinergikan Riset HPI untuk Percepat Penanganan Stunting

Subang10 jam lalu
ADVERTISEMENT
Kesbangpol Subang Perkuat Wawasan Kebangsaan Generasi Muda di Era Digital

Kesbangpol Subang Perkuat Wawasan Kebangsaan Generasi Muda di Era Digital

Subang11 jam lalu
13 Tips Mencari Kerja di Subang agar Cepat Mendapat Pekerjaan

13 Tips Mencari Kerja di Subang agar Cepat Mendapat Pekerjaan

Lifestyle11 jam lalu
Tujuh Hektare Sawah di Tambakmekar Alami Kekeringan

Tujuh Hektare Sawah di Tambakmekar Alami Kekeringan

Subang11 jam lalu
Wabup Subang Sampaikan Pendapat soal Raperda Pemajuan Kebudayaan

Wabup Subang Sampaikan Pendapat soal Raperda Pemajuan Kebudayaan

Subang11 jam lalu
Wamen Ossy: Kementerian ATR/BPN Hormati Proses Hukum dan Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan

Wamen Ossy: Kementerian ATR/BPN Hormati Proses Hukum dan Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan

Nasional11 jam lalu
Kenapa Banyak yang Keracunan MBG tapi Belum Ada Tersangka? Ini Penjelasan Hukumnya

Kenapa Banyak yang Keracunan MBG tapi Belum Ada Tersangka? Ini Penjelasan Hukumnya

Nasional12 jam lalu