Bongkar Modus “Pengantin Pesanan”, Perempuan Jabar Diminta Waspada Mahar Fantastis

PASUNDANEKSPRES.ID - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkap maraknya praktik “pengantin pesanan” yang dinilai telah menjerat banyak perempuan di Jawa Barat.
Modus ini kerap menyasar perempuan dengan iming-iming pernikahan dengan warga negara asing (WNA), disertai janji mahar besar serta kehidupan mewah.
Dedi menyebut, tidak sedikit korban yang akhirnya terjebak karena rendahnya literasi hukum dan tekanan ekonomi. Menurutnya, pelaku memanfaatkan kondisi tersebut dengan menawarkan pernikahan yang tampak menguntungkan, namun tidak memiliki kejelasan prosedur hukum maupun perlindungan bagi pihak perempuan.
“Banyak sekali perempuan Jawa Barat yang mudah terbujuk janji uang dan mahar mahal,” ujar Dedi dalam keterangannya.
Ia mencontohkan kasus yang menimpa seorang warga Kabupaten Cirebon sebagai peringatan serius bagi masyarakat. Dalam kasus tersebut, korban diduga menjadi bagian dari praktik pengantin pesanan yang berujung pada penderitaan, bukan kesejahteraan seperti yang dijanjikan.
Gubernur Jawa Barat menegaskan bahwa seluruh proses pernikahan maupun kerja ke luar negeri wajib melalui jalur resmi dan harus didampingi lembaga yang berwenang. Ia juga meminta pemerintah desa hingga kabupaten/kota untuk turun langsung melakukan edukasi serta pengawasan terhadap warganya.
Menurut Dedi, upaya pencegahan harus dimulai dari tingkat desa agar tidak terus muncul korban baru akibat iming-iming kesejahteraan yang semu. Ia menekankan pentingnya peran aparatur wilayah dalam memberikan pemahaman hukum dan sosial, khususnya kepada perempuan yang rentan menjadi sasaran.
“Pencegahan harus dimulai dari bawah. Jangan sampai iming-iming kesejahteraan justru berujung pada penderitaan,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat berharap masyarakat lebih waspada dan tidak mudah tergiur tawaran pernikahan dengan mahar besar tanpa kejelasan hukum, demi melindungi keselamatan dan masa depan perempuan di daerah tersebut
