Apakah Boleh Menggabungkan Puasa Dzulhijjah dan Qadha Ramadan? Ini Penjelasannya

PASUNDANEKSPRES.ID - Bulan Dzulhijjah memiliki banyak keutamaan dan dianjurkan bagi umat Muslim untuk memperbanyak amalan sunnah, salah satunya melaksanakan puasa Dzulhijjah.
Puasa Dzulhijjah merupakan puasa sunnah yang dilaksanakan di bulan Dzulhijjah selama 9 hari pertama sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadis Abu Dawud:
"Sesungguhnya Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura, sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah, dan tiga hari pada setiap bulan." (HR Abu Dawud)
Selain itu, umat Islam juga dianjurkan untuk melaksanakan Puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah dan Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah menjelang Hari Raya Idul Adha.
Di tengah semangat menjalankan puasa sunnah tersebut, muncul pertanyaan apakah boleh menggabungan puasa Dzulhijjah dengan puasa Qadha Ramadan?
Hal ini karena sebagian umat Islam mungkin masih memiliki utang puasa Ramadan karena haid, sakit, perjalanan jauh, dan uzur syar'i lainnya yang belum dituntaskan.
Untuk mengetahui informasi ini lebih lanjut, berikut informasi tentang bagaimana hukum menggabungkan puasa Dzulhijjah dan puasa Qadha Ramadan.
Hukum Menggabungkan Puasa Dzulhijjah dan Puasa Qadha Ramadan
Mengutip dari laman resmi NU Online Jateng, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) Ustadz Alhafiz Kurniawan menjelaskan, bagi orang yang melaksanakan puasa tersebut tetap akan mendapatkan keutamaan puasa Dzulhijjah dengan niat membayar puasa di hari yang disunnahkan tersebut.
"Qadha puasa Ramadhannya tetap sah. Sedangkan ia sendiri tetap mendapatkan keutamaan yang didapat oleh mereka yang berpuasa dengan niat puasa sunnah Arafah," jelas Ustadz Alhafiz dalam artikel Hukum Qadha Puasa Ramadhan Digabung dengan Puasa Tarwiyah dan Puasa Online di NU Online, dikutip Rabu (20/5/2026).
Ustadz Alhafiz menjelaskan, ulama terdahulu seperti Syekh Zakariya Al-Anshari menyinggung hal serupa dalam kitab Asnal Mathalib Juz V yang menyebut, bahwa orang yang berpuasa pada hari Asyura, misalnya, untuk qadha atau nazar puasa, maka ia juga mendapat pahala puasa sunnah hari Asyura.
Pandangan ini disepakati oleh Al-Ushfuwani, Al-Faqih Abdullah An-Nasyiri, Al-Faqih Ali bin Ibrahim bin Shalih Al-Hadhrami.
Sayyid Bakri Syatha al-Dimyathi dalam kitab I‘anatut Thalibin juga menjelaskan bahwa orang yang berpuasa pada hari-hari tertentu yang sangat dianjurkan untuk berpuasa di dalamnya akan mendapatkan keutamaan sebagai mereka yang berpuasa sunnah pada hari tersebut, walaupun dengan niat qadha puasa atau puasa nazar.
Senada, dalam kitab Al-I‘ab, Al-Barizi juga berfatwa bahwa seandainya seseorang berpuasa pada hari tersebut dengan niat qadha atau sejenisnya, maka dapatlah keduanya, baik ia meniatkan keduanya atau tidak.
Meski demikian, Ustadz Alhafiz menyarankan agar umat Islam yang masih memiliki utang puasa lebih baik segera mengqadha utang puasanya terlebih dahulu.
Jika telah diselesaikan, orang yang sudah lunas membayar utang puasanya dapat melaksanakan puasa sunnah lainnya.
"Namun, jika memang utang puasa Ramadan baru teringat jelang hari Arafah, sebaiknya orang tersebut membayar qadha puasanya di hari Arafah," jelasnya.
(inm)
