BHRD Subang Adakan Bimtek Hisab dan Ruyat, Tentang Arah Kiblat Untuk Masjid dan TPU

PASUNDANEKSPRES.ID - Badan Hisab Ruyat Daerah (Kabupaten Subang) mengadakan Bimtek soal arah kiblat untuk masjid dan tempat pemakaman umum (TPU).
Kegiatan Bimtek.tersebut berlangsung di Sekretariat LPTQ Subang, Rabu (19/11/2025).
Kasie Bimas Kemenag Subang Mamat Suhermat menyampaikan pihaknya menyambut baik dan apresiasi, juga Kemenag terbantu tentang adanya kegiatan BImtek yang diselenggarakan oleh Badan Hisab Ruyat Daerah (BHRD) Kabupaten Subang.
Menurutnya perangkat KUA harus memahami soal penentuan arah kiblat masjid dan arah kiblat di pemakaman umum (TPU), sehingga umat saat mendirikan masjid atau mushola tidak salah arah kiblatnya.
"Ini menyangkut kepentingan umat soal arah kiblat, sesuai syar'i nya dan termasuk syarat sahnya shalat. Dan personil kami diberi pembekalan penentuan arah kiblat, dan ini bisa dikatakan Kemenag Berdampak," katanya kepada Pasundan Ekspres.
Sementara itu Ketua BHRD KH. Jejen Zaenal Mufid S.SosI MPd diantara program BHRD bukan hanya soal arah kiblat untuk masjid dan Tugu arah kiblat di tempat pemakaman umum (TPU). Juga ada pembuatan kalender BHRD di mana termuat jadwal shalat untuk daerah Kabupaten Subang.
"Jadi masjid dan makbaroh atau TPU harus mengarah kiblat," katanya.
Sementara mengenai masjid yang sudah berdiri akan ada pembetulan arah kiblat dengan memasang stiker arah kiblat di dalam masjid, sehingga masjid yang kurang pas arah kiblat nya akan ada pembetulan arah kiblatnya dengan stiker karpetnya dibetulkan arah kiblatnya.
Selain itu adanya pelatihan soal hisab dan ruyat ini, juga untuk menentukan awal bulan ramadhan (bulan puasa), hari raya idul fitri dan idul adha serta waktu wukuf di Arafah.
Kemudian arah kiblat bisa diukur dengan alat modern, atau dihitung secara manual, juga bisa dilihat melalui bayang bayang matahari, ada yang pagi hari atau siang hari.
"Jadi peserta yang ikut pelatihan ini dari KUA dan ormas islam, agar mereka mampu menentukan arah kiblat dengan alat ukur modern juga secara manual dengan menghitung arah kiblat dari titik tempat masjid didirikan juga TPU di desa desa, dengan begitu masyarakat tidak salah menentukan arah kiblat. Hal ini juga dijelaskan dalam kitab Syafinah karangan Imam Nawawi," pungkasnya.(dan/ded)
