Krisis Air, Puluhan Hektare Sawah di Kecamatan Cipatat Bandung Barat Jadi Semak Belukar

Dampak Jaringan Irigasi Rusak Bertahun-tahun
PASUNDANEKSPRES.ID - Puluhan hektare lahan persawahan di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terpaksa beralih fungsi menjadi lahan palawija akibat minimnya pasokan air dari Daerah Irigasi (D.I.) Rajamandala. Bahkan, sebagian lahan kini dibiarkan terlantar dan dipenuhi semak belukar karena tidak lagi produktif.
Kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama. Para petani menyebut kerusakan jaringan irigasi yang semakin parah menjadi penyebab utama menurunnya pasokan air ke areal persawahan yang bukan merupakan sawah tadah hujan. Sejumlah kerusakan yang ditemukan di antaranya sedimentasi yang menumpuk di sepanjang saluran, kebocoran irigasi, pintu air yang tidak berfungsi, hingga bahu saluran yang jebol.
Mitra Cai Cikalapa, Desa Rajamandala Kulon, Unang, mengatakan luas lahan persawahan di wilayahnya mencapai sekitar 30 hektare. Namun, hanya separuhnya yang masih bisa ditanami padi. "Sekitar 15 hektare masih bisa ditanami padi, sedangkan 15 hektare sisanya sebagian ditanami palawija dan sebagian lagi terlantar," kata Unang di Cipatat, Kamis (11/6/2026).
Ia mengungkapkan, krisis irigasi di wilayah tersebut sudah berlangsung sekitar 13 tahun. Selama itu pula, ketersediaan air untuk pertanian terus mengalami penurunan. "Saya sudah lama mengolah sawah di sini, jadi saya tahu persis bagaimana ketersediaan air semakin menurun," ujarnya.
Kondisi serupa dialami Mitra Cai Cinangka, Kastari. Dari total 25 hektare sawah yang ada di wilayahnya, hanya sekitar 10 hektare yang masih mendapatkan aliran air. "Sisanya terpaksa ditanami palawija atau ditumbuhi semak belukar. Keadaan ini sudah berlangsung lebih dari tiga tahun," jelasnya.
Sementara itu, di Kampung Ciruman, Desa Mandalasari, dampak kerusakan irigasi juga dirasakan para petani. Sekretaris Kelompok Tani setempat, Jajang, menyebut dari total 12 hektare sawah, hanya 2 hektare yang masih layak ditanami padi.
Menurutnya, memaksakan menanam padi di lahan yang kekurangan air hanya akan menimbulkan kerugian bagi petani. "Jika dipaksakan menanam padi, petani justru merugi karena air tidak mencukupi. Akhirnya banyak yang beralih ke tanaman palawija atau membiarkan lahannya menganggur. Ini sudah berlangsung hampir empat tahun," katanya.
Terjadi Juga di Wilayah Selain Kecamatan Cipatat
Selain di Desa Rajamandala Kulon dan Mandalasari, persoalan serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain di Kecamatan Cipatat, seperti Kampung Bungur di Desa Mandalasari, serta beberapa kawasan di Desa Mandalawangi, meliputi Cijengkol, Cisaladah, Kiara Komplek, dan Tagog.
Para petani berharap pemerintah segera melakukan perbaikan menyeluruh terhadap jaringan irigasi D.I. Rajamandala agar lahan pertanian yang selama ini terbengkalai dapat kembali produktif dan ditanami padi.(ijr/sep)
