Pojokan 292: MBG, Bukan 3 M untuk Guru

Adalah Mas Anam, guru swasta disalah satu perguruan swasta di Solo. Honor sebagai guru Pendidikan Agama Islam (PAI) hanya sekitar Rp.800 ribu sebulan. Dia masih beruntung dengan angka itu. Banyak teman-teman seprofesinya menerima jauh di bawah angka itu, yang terendah Rp.250 ribu per bulan.
Lebih mengenaskan lagi, seorang guru pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K) di Sumedang viral di media sosial, gegara hanya mendapat insentif Rp 50 ribu.
Jomplang bak kerak bumi dan langit, penghasilan mereka dengan para taipan oligarkh. Rp 50 ribu sebulan dibandingkan dengan penghasilan 1% orang terkaya d Indonesia yang menguasai 50,6% kekayaan nasional. Dan 10% orang terkaya menguasai 73% kekayaan negara. Itulah bumi dan langitnya pendapatan guru honorer dengan dominasi kuat oligarkhi dalam perekonomoan dan politik Indonesia.
Mengenaskan sekali nasib para pelita bangsa ini. Kalah sama buruh pabrik yang lulusan SMA (Sekolah Menengah Atas). Di mana gaji mereka sudah dilindungi oleh UMR (Upah Minimum Regional). Sementara para guru honorer hanya terlindungi 3 M (Mohon Menerima apa adanya ya Mas). Pantas mereka masih tetap menyandang predikat Guru Oemar Bakri- yang tak terperhatikan kesejahteraannya, namun tetap mengabdi mencerdaskan anak bangsa.
Data Kemendikdasmen (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) tahun 2026 menyebutkan jumlah guru non ASN mencapai 237 ribuan. Faktanya bisa melebihi angka itu. Guru macam Anam ini, bisa jadi belum masuk dalam hitungan statistik dan tak masuk dalam kebijakan. Jumlahnya puluhan ribu pula.
Data menunjukkan, 74% penghasilan guru honorer yang tak terperhatikan ini, di bawah Rp 2 juta per bulan. 20,5% cuma diganjar Rp500 ribu. Belum kasus-kasus miris di mana guru honorer hanya dibayar setara penghasilan seminggu alih-alih satu bulan, hingga ancaman pemutusan kerja, akibat tak ada dana untuk menggaji mereka.
Level kesejahteraan guru di Indonesia menduduki posisi paling buncit, dibandingkan dengan guru di negara ASEAN lainnya. Sang Oemar Bakri di negeri ASEAN, mendapatkan ganjaran antara Rp10,5 - Rp25 juta/bulan.
Guru honor di Indonesia, selalu terlilit administrasi untuk pembelajaran – kadang terjerat hutang juga. Insentif yang datang tak tentu, bagai Bang Toyib, yang tak kunjung datang, seolah menjadi garis tangan nasib guru honorer.
Dalam angka, anggaran pendidikan tahun 2026 cukup besar mencapai Rp757,8 triliun. 20% dari APBN (Anggaran Pendapan dan Belanja Negara). Dari angka itu Rp274,7 triliun dialokasikan untuk kesejahteraan guru. Anggaran itu hanya menempatkan guru sebagai a cost center bukan sebagai cost investment. Guru masih menajdi subsistem dari komodifikasi pendidikan yang dihargai MURAH.
Pak Presiden! Mbo ya penting angka-angka di atas diprioritaskan untuk kesejahteraan guru honor baik yang di sekolah/madrasah negeri atau swasta. Mereka juga perlu program MBG (meningkatkan bayaran guru). Macam ada standar UMR untuk guru. Tak hanya itu, agar supaya pengelolaan tenaga pendidik di semua lembaga (negeri dan swasta) dikelola negara, menjadi P3K. Kalau untuk BoP (Board of Peace) bisa, tentu untuk guru yang mencerdaskan kehidupan bangsa pasti bisa. Konon ini amanat Undang-Undang Dasar 1945. Juga mewujudkan sila ke 5 Pancasila.
Kalau tak diperhatikan, mana bisa para Oemar Bakri ini beralih status menjadi suluh bangsa yang abadi. Pasti api memerdekaan dari kebodohan anak bangsa akan padam, dirundung perut kosong para Oemar Bakri dan keluarganya. Terbayang Ki hajar Dewantara akan menangis sesegukan, karena para guru yang seharusnya Memayu Hayunging Sarira (memerindah keindahan-kesejahteraan dan keteladanan diri), alih profesi jadi tukang ojek pasca mengajar.
Sedih karena tak mungkin para guru ini mampu mencapai Memayu Hayunging Bangsa (memerindah bangsa dengan kecerdasan, kreatifitas dan karya anak bangsa hasil didikannya). Pun tak mampu menjadi Memayu Hayuning Buwana (melahirkan anak didik yang mampu mengharumkan nama bangsa dipentas dunia). Karena tak memadainya kesejahteraan mereka.
Jadi kesiapa lagi guru honorer mengadu pak Presiden? Juga kapan guru honorer sejahtera? Tak kalah dengan buruh pabrik! Padahal buruh itu dihasilkan oleh para guru, yang menyiapkan tenaga siap pakai untuk industry. (Kang Marbawi 150226)
