Bonus Demografi di Depan Mata, Andhika Dorong Jabar Perkuat Kualitas Generasi Muda

SUBANG – Anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi Partai Gerindra, Andhika Surya Gumilar, mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memperkuat kualitas generasi muda sebagai langkah strategis menghadapi bonus demografi. Menurutnya, besarnya jumlah penduduk usia produktif harus menjadi kekuatan pembangunan, bukan justru menjadi persoalan baru apabila tidak dipersiapkan dengan baik.
Andhika mengatakan bonus demografi merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan Jawa Barat. Namun, peluang tersebut membutuhkan persiapan sejak dini melalui peningkatan kualitas pendidikan, keterampilan, kesehatan, karakter, serta akses terhadap lapangan pekerjaan.
“Bonus demografi harus kita siapkan dengan serius. Jumlah generasi muda yang besar harus diikuti dengan kualitas sumber daya manusia yang baik,” ujar Andhika pada selasa (25/8/2026).
Ia menilai pendidikan menjadi salah satu fondasi utama dalam mempersiapkan generasi muda. Pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga harus memberikan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan dunia kerja.
“Anak-anak muda harus dibekali kemampuan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Tidak hanya pendidikan formal, tetapi juga keterampilan, kreativitas, kemampuan digital, dan jiwa kewirausahaan,” katanya.
Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip pemerintah pada 2026, sekitar 69 persen penduduk Indonesia berada dalam kelompok usia produktif 15–64 tahun. Kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi apabila mampu menyediakan pendidikan, keterampilan, serta lapangan kerja yang memadai.
Sebagai salah satu provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, Jawa Barat memiliki posisi penting dalam pemanfaatan bonus demografi. Karena itu, menurut Andhika, pembangunan sumber daya manusia harus menjadi perhatian bersama, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, lembaga pendidikan, dunia usaha, hingga masyarakat.
“Jawa Barat memiliki potensi generasi muda yang luar biasa. Tinggal bagaimana potensi tersebut diberikan ruang, kesempatan, dan fasilitas untuk berkembang,” ungkapnya.
Selain pendidikan, Andhika menyoroti pentingnya keterampilan digital. Perkembangan teknologi telah mengubah pola kerja dan membuka berbagai jenis pekerjaan baru. Generasi muda harus mampu mengikuti perubahan tersebut agar tidak tertinggal dalam persaingan.
“Transformasi digital harus menjadi bagian dari pengembangan generasi muda. Mereka harus menjadi pengguna teknologi yang produktif, bahkan kalau memungkinkan mampu menciptakan inovasi dan lapangan pekerjaan melalui teknologi,” jelas Andhika.
Menurutnya, pengembangan kewirausahaan juga dapat menjadi salah satu solusi untuk memperluas kesempatan ekonomi bagi generasi muda. Anak muda tidak hanya diarahkan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga perlu diberikan kesempatan dan pendampingan untuk menciptakan usaha.
Andhika menilai sektor UMKM dan ekonomi kreatif memiliki peluang besar untuk menjadi wadah bagi generasi muda dalam mengembangkan kemampuan sekaligus menciptakan sumber pendapatan. Terlebih, perkembangan platform digital membuat pemasaran produk lokal kini dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
“Anak muda jangan hanya diposisikan sebagai pencari kerja. Kita juga harus mendorong mereka menjadi pencipta lapangan kerja,” tegasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan kualitas generasi muda harus dilakukan secara merata. Jangan sampai hanya anak muda di wilayah perkotaan yang mendapatkan akses pendidikan, teknologi, pelatihan, dan kesempatan ekonomi yang baik.
“Pemerataan kesempatan sangat penting. Anak muda di daerah juga harus mendapatkan akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas, pelatihan, teknologi, dan peluang untuk mengembangkan usaha,” kata Andhika.
Ia berharap program pembangunan generasi muda tidak dilakukan secara parsial dan hanya berlangsung dalam jangka pendek. Menurutnya, diperlukan program berkelanjutan yang dapat menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri serta perkembangan ekonomi daerah.
“Kalau kita ingin bonus demografi menjadi keuntungan, persiapannya harus dimulai sekarang. Jangan menunggu sampai jumlah penduduk usia produktif sudah sangat besar baru kita bergerak,” ujarnya.
Selain menciptakan lapangan kerja, generasi muda juga perlu diberikan ruang untuk terlibat dalam pembangunan daerah. Kreativitas dan gagasan anak muda, menurut Andhika, dapat menjadi sumber inovasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.
“Generasi muda harus dilibatkan dalam pembangunan. Mereka bukan hanya penerima manfaat pembangunan, tetapi juga harus menjadi bagian dari orang-orang yang menentukan masa depan daerah,” tambahnya.
Dengan persiapan yang matang, Andhika optimistis bonus demografi dapat menjadi modal besar bagi Jawa Barat untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat perekonomian, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan memanfaatkan bonus demografi tidak hanya ditentukan oleh jumlah penduduk usia produktif, tetapi terutama oleh kualitas manusia yang dimiliki.
“Bonus demografi adalah kesempatan besar. Tugas kita sekarang adalah memastikan generasi muda Jawa Barat benar-benar siap memanfaatkan kesempatan tersebut,” pungkas Andhika.
