Di Balik Rasanya yang Khas, Oncom Dawuan Subang Ternyata Dibuat Seperti Ini

PASUNDANEKSPRES.ID - Oncom Dawuan Subang menjadi salah satu makanan khas yang namanya sudah melekat di kalangan masyarakat Kabupaten Subang. Hampir setiap hari, bahan makanan ini mudah ditemukan di pasar tradisional, warung sayur, hingga lapak pedagang keliling.
Aroma khasnya yang kuat sering kali langsung mengingatkan pada berbagai masakan Sunda rumahan. Mulai dari sambal oncom, nasi tutug oncom, oseng leunca, isian gorengan, hingga lauk sederhana yang disantap bersama nasi hangat.
Banyak orang mengenal oncom sebagai makanan sehari-hari. Namun tidak sedikit yang belum mengetahui bahwa salah satu sentra pembuatannya berada di Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang.
Popularitas Oncom Dawuan Subang Sudah Lama Dikenal
Oncom Dawuan Subang bukan sekadar produk rumahan biasa. Melansir data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Kecamatan Dawuan memiliki sejumlah desa yang dikenal sebagai sentra produksi oncom.
Salah satu yang paling terkenal adalah Desa Dawuan Kaler. Dari lima RW yang ada, tiga wilayah di antaranya yakni RW 1, RW 2, dan RW 5 dikenal sebagai Kampung Babakan Oncom.
Julukan tersebut muncul karena banyak warga yang menggantungkan penghasilan dari produksi dan penjualan oncom. Aktivitas membuat oncom bahkan telah berlangsung turun-temurun selama puluhan tahun.
Hasil produksinya tidak hanya dipasarkan di sekitar Dawuan. Oncom Dawuan ini juga menyebar ke berbagai pasar tradisional di wilayah Subang dan sekitarnya.
Cara Membuat Oncom Dawuan
Popularitas Oncom Dawuan tidak lepas dari proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional.
Begini cara buatnya mengutip kanal YouTube Teguh Gumilar Channel:
- Kacang tanah dijemur selama kurang lebih dua jam hingga benar-benar kering.
- Kacang tanah yang sudah kering digiling secara kasar menggunakan mesin penggiling.
- Hasil gilingan kacang kemudian direndam selama sekitar satu hari penuh.
- Setelah direndam, kacang dicuci dan disaring hingga kulit arinya terpisah.
- Kacang yang sudah bersih dikukus selama kurang lebih tiga jam sampai matang dan teksturnya lunak.
- Bahan yang telah matang didinginkan terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap berikutnya.
- Kacang kemudian dicampur dengan ampas tahu dan diberi ragi sebagai bahan fermentasi.
- Campuran tersebut dimasukkan ke dalam cetakan kayu hingga berbentuk balok oncom.
- Bagian atas cetakan biasanya ditutup menggunakan koran atau penutup serupa.
- Adonan difermentasi selama sekitar tiga hingga empat hari.
- Selama proses fermentasi, kapang atau jamur akan tumbuh dan menghasilkan spora.
- Oncom dinyatakan matang dan siap dipasarkan ketika spora mulai muncul di permukaannya.
Nah, kemunculan spora menjadi penanda bahwa oncom sudah matang dan siap dipasarkan. Inilah salah satu perbedaan utama antara oncom dan tempe.
Pada tempe, produk sudah bisa dijual saat jamur masih berada pada fase hifa. Sementara pada oncom, proses fermentasi dibiarkan berlanjut hingga spora benar-benar muncul dan memberikan cita rasa khas yang lebih kuat.
Harga Oncom Dawuan yang Masih Ramah di Kantong
Selain terkenal karena rasanya, Oncom Dawuan Subang juga digemari karena harganya yang relatif terjangkau.
Di sejumlah pasar tradisional, satu potong oncom biasanya dijual sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000 tergantung ukuran dan kualitasnya.
Harga yang murah membuat oncom menjadi bahan makanan favorit banyak keluarga. Satu potong oncom bahkan bisa diolah menjadi beberapa jenis menu sekaligus.
Tak heran jika permintaannya tetap stabil hingga sekarang.
(pm
