Kirab Mahkota Binokasih Cirebon, Dedi Mulyadi Soroti Sejarah dan Masa Depan

PASUNDANEKSPRES.ID - Kegiatan kirab mahkota binokasih berlangsung meriah di Cirebon dan menjadi simbol kebangkitan sejarah serta budaya daerah. Momentum kirab mahkota binokasih ini menarik perhatian masyarakat karena mengangkat kembali nilai historis yang telah lama menjadi bagian penting identitas daerah.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sambutannya menegaskan bahwa kirab mahkota binokasih bukan sekadar seremoni, melainkan upaya membangun jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Kegiatan kirab mahkota binokasih ini disorot langsung dalam tayangan YouTube Dedi Mulyadi, Selasa (12/5/2026).
Makna Kirab Mahkota Binokasih bagi Sejarah
Dalam pidatonya, Dedi Mulyadi menekankan bahwa kirab mahkota binokasih memiliki makna penting sebagai pengingat sejarah.
Menurutnya, kirab mahkota binokasih menjadi simbol bahwa pembangunan tidak boleh lepas dari akar budaya. Banyak pihak, kata dia, hanya fokus pada masa depan tanpa memahami sejarah, padahal keduanya harus berjalan beriringan.
Ia menegaskan bahwa kejayaan bangsa tidak bisa dilepaskan dari keterikatannya dengan sejarah dan identitas budaya yang kuat.
Cirebon sebagai Simbol Pluralisme
Dalam konteks kirab mahkota binokasih, Dedi juga menyoroti posisi Cirebon sebagai wilayah dengan nilai pluralisme tinggi.
Ia menyebut Cirebon sebagai miniatur Indonesia, di mana berbagai unsur budaya, agama, dan sejarah berpadu secara harmonis. Nilai-nilai ini, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban yang inklusif.
Kritik Pembangunan yang Eksploitatif
Melalui momentum kirab mahkota binokasih, Dedi menyampaikan kritik terhadap pola pembangunan yang dinilai terlalu eksploitatif.
Ia menekankan bahwa pembangunan harus menghidupkan lingkungan, bukan merusaknya. Dalam pandangannya, konsep pembangunan berbasis budaya dan ekologi menjadi solusi untuk menciptakan keseimbangan antara kemajuan dan keberlanjutan.
Dorongan Penataan Kota dan Pariwisata
Kirab mahkota binokasih juga menjadi momentum untuk mendorong penataan Kota Cirebon.
Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa jika kota ditata dengan baik—mulai dari kebersihan, tata ruang, hingga pelestarian budaya—maka dampak ekonomi akan meningkat. Ia menilai kirab mahkota binokasih dapat menjadi pemicu pengembangan pariwisata berbasis budaya.
Pesan untuk Generasi Muda
Dalam rangkaian kirab mahkota binokasih, Dedi turut menyoroti kondisi generasi muda.
Ia mengajak anak muda untuk menjauhi perilaku negatif dan membangun mentalitas positif. Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai yang diwariskan melalui kirab mahkota binokasih.
Kirab mahkota binokasih di Cirebon tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga momentum refleksi tentang pentingnya sejarah, identitas, dan arah pembangunan ke depan.
Melalui kirab mahkota binokasih, diharapkan lahir kesadaran kolektif untuk menjaga budaya sekaligus membangun masa depan yang lebih baik.
