Oleh: Nesya Zhafira Putri
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Siswantoro
Pemerintah terus memperkuat sektor peternakan melalui pendekatan kepada masyarakat dengan berbagai program pemberdayaan, salah satunya dengan memberikan pelatihan budidaya peternakan bagi petani dan peternak di daerah terpencil. Program ini dinilai menjadi langkah awal yang strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) dibawah naungan Kementerian Pertanian, pemerintah secara aktif menyelenggarakan pelatihan berkala yang mencakup beberapa aspek penting dalam usaha peternakan seperti teknik budidaya ternak, manajemen pakan, pengendalian penyakit, hingga pengelolaan hasil ternak. Pelatihan ini ditujukan untuk peternak skala kecil dan menengah yang selama ini masih tertinggal ilmu beternak modern. Program pelatihan ini mulai diterapkan secara berkala untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional yang terstruktur hingga akarnya.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr. drh. Agung Suganda M.Si, mengatakan bahwa usaha peternakan terutama di bidang sapi potong masih memerlukan impor dari negara asing. Hal ini terbukti dengan kebutuhan daging sapi di Indonesia terpenuhi dengan adanya impor yang dilakukan pemerintah . Permintaan yang lebih tinggi dibanding dengan produksi mengakibatkan ketidakseimbangan pasar daging sapi sehingga harga meningkat.Upaya peningkatan produktivitas sapi potong dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan kepada peternak lokal mengenai manajemen pemeliharaan, pemberian pakan dan pemilihan bibit unggul.
Fenomena tersebut dapat dianalisis melalui teori Development Communication (Komunikasi Pmbangunan). Dalam konteks ini, pemerintah berperan sebagai komunikator yang menyampaikan pesan pembangunan melalui program pelatihan peternakan kepada masyarakat. Pelatihan tidak hanya berfungsi sebagai transfer pengetahuan teknis, tetapi juga sebagai sarana komunikasi untuk mendorong perubahan sikap dan perilaku peternak agar lebih mandiri dan produktif. Melalui pendekatan komunikasi pembangunan, masyarakat tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi dilibatkan secara aktif dalam proses pembangunan sektor peternakan dan ketahanan pangan nasional.
Selain meningkatkan keterampilan usaha peternak, pelatihan ini juga bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat.
Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk memperluas jangkauan pelatihan budidaya peternakan ke lebih banyak wilayah, terutama daerah pedesaan. Program ini diharapkan dapat mendorong kemandirian peternak serta memperkuat ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal, sehingga selaras dengan peningkatan ketahanan pangan nasional. (*)