Scroll untuk Belajar: Hari Pendidikan Internasional Menjadi Gerakan Digital

Oleh: Bayu Sidiq
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro
Peringatan Hari Pendidikan Internasional yang jatuh setiap 24 Januari kini tidak hanya dirayakan melalui seminar, upacara, atau diskusi di ruang kelas. Perkembangan teknologi digital telah memperluas ruang perayaan tersebut ke dunia maya, terutama melalui platform Instagram dan TikTok yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Media sosial telah menjelma menjadi panggung utama penyebaran pesan pendidikan yang menjangkau berbagai lapisan generasi.
Berdasarkan data penggunaan media sosial di Indonesia, TikTok dan Instagram termasuk platform yang paling banyak diakses masyarakat sepanjang 2025. TikTok mencatat tingkat interaksi yang sangat tinggi dengan dominasi respons positif dan netral, sementara Instagram tetap menjadi media populer untuk berbagi konten visual yang informatif dan interaktif. Tingginya aktivitas ini menunjukkan bahwa kedua platform tersebut memiliki potensi besar sebagai sarana kampanye pendidikan.
Fenomena tersebut dapat dianalisis melalui Uses and Gratifications Theory, yang menekankan bahwa pengguna media bersifat aktif dalam memilih dan mengonsumsi konten berdasarkan kebutuhan pribadi mereka. Audiens tidak lagi menjadi penerima pesan yang pasif, melainkan secara sadar mencari informasi yang dapat memenuhi kebutuhan kognitif, emosional, sosial, hingga pembentukan identitas diri.
Konten kampanye Hari Pendidikan Internasional yang muncul di Instagram umumnya dikemas dalam bentuk infografik edukatif, kutipan motivasi, dokumentasi kegiatan sekolah, serta ajakan refleksi tentang pentingnya pendidikan. Di sisi lain, TikTok menyajikan pesan pendidikan melalui video singkat yang kreatif, tips belajar, kisah inspiratif siswa dan guru, serta tantangan edukatif yang mudah diikuti. Pengguna yang berinteraksi dengan konten-konten ini tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga memperoleh kepuasan emosional berupa semangat belajar, rasa terhubung dengan komunitas, serta peluang untuk berbagi pandangan melalui kolom komentar dan fitur berbagi.
Pola ini menunjukkan bahwa kampanye pendidikan di media sosial berjalan seiring dengan kebutuhan audiens modern. Pelajar memanfaatkan konten untuk mencari metode belajar yang lebih efektif, guru menggunakan platform tersebut untuk menginspirasi, dan orang tua mengakses informasi sebagai referensi mendukung pendidikan anak. Semua proses ini mencerminkan bagaimana media sosial berfungsi sebagai alat pemenuhan kebutuhan individu, sebagaimana dijelaskan dalam Uses and Gratifications Theory.
Namun, tantangan utama dari kampanye digital adalah persaingan dengan berbagai konten hiburan yang juga mendominasi linimasa pengguna. Oleh karena itu, pesan pendidikan tidak hanya harus informatif, tetapi juga dikemas secara menarik, kreatif, dan relevan dengan gaya komunikasi generasi digital agar tetap mendapat perhatian.
Secara keseluruhan, kampanye Hari Pendidikan Internasional di Instagram dan TikTok menunjukkan bahwa media sosial tidak sekadar menjadi sarana penyebaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang pemenuhan kebutuhan belajar, motivasi, dan interaksi sosial. Ketika digunakan dengan strategi yang tepat, media sosial mampu memperluas makna peringatan Hari Pendidikan Internasional dan menjadikannya lebih dekat dengan kehidupan generasi masa kini. (*)
