Disnakertrans Subang: 2.112 Warga Subang Pilih Jadi TKI, Tujuan Paling Banyak ke Taiwan

PASUNDANEKSPRES.ID - Sebanyak 2.112 warga Subang resmi terdaftar menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) sepanjang Januari hingga Juli 2025.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Subang, Rona Mairansyah menjelaskan, negara tujuan utama masih didominasi kawasan Asia Timur dan yang paling banyak dipilih adalah Taiwan.
“Selain Taiwan, warga Subang juga banyak diberangkatkan ke Singapura, Hong Kong, Malaysia, Brunei Darussalam, Jepang, hingga Jerman, yang kini mulai menerima tenaga kerja dari berbagai sektor,” jelasnya saat diwawancara Pasundan Ekspres, Senin (8/12/2025).
Rona mengungkapkan, mayoritas CPMI Subang berasal dari wilayah Pantura. Karakter pekerjaan, kebutuhan ekonomi, serta jejaring sosial antarsesama pekerja migran membuat wilayah ini menjadi kantong terbesar calon tenaga kerja luar negeri.
“Subang termasuk peringkat ketiga penyumbang CPMI. Peringkat pertama Indramayu, disusul Karawang, dan Subang berada di posisi berikutnya,” ungkapnya.
Menurut Rona, faktor ekonomi masih menjadi alasan dominan yang mendorong warga berbondong-bondong bekerja ke luar negeri.
“Iming-iming gaji besar di luar negeri, kabar dari mulut ke mulut dari mereka yang pernah bekerja di sana, menjadi daya tarik tersendiri. Begitu ada kesempatan, mereka langsung berangkat,” ujarnya.
Di sisi lain, Rona menegaskan, bila lapangan pekerjaan lokal mampu menyerap tenaga kerja secara lebih optimal, maka masyarakat akan cenderung bekerja di sekitar Subang.
“Ketika kita memang masih bisa menyerap tenaga kerja, tentu mereka memilih yang ada di sekitar,” tambahnya.
Untuk memudahkan proses penempatan, Disnaker Subang menyediakan berbagai fasilitas, termasuk layanan pembuatan paspor dan administrasi imigrasi lainnya.
“Fasilitas imigrasi bagi TKI seperti pembuatan paspor dan sebagainya kami sediakan di sini,” kata Rona.
Namun demikian, ia menyoroti masih rendahnya komunikasi dari para pekerja migran setelah mereka berada di luar negeri.
Rona menyampaikan kekhawatirannya terkait minimnya laporan dari para pekerja migran setelah mereka berangkat.
“Ketika sudah di luar negeri, dihubungi susah. Harusnya mereka tetap report ke kita soal kondisi. Ini tahu-tahu ada masalah, baru lapor,” ungkapnya.
Ia berharap para CPMI tetap menjaga komunikasi dan memanfaatkan saluran resmi pemerintah untuk memastikan mereka bekerja dengan aman, terlindungi, dan sesuai kontrak.
Dengan jumlah penempatan yang terus meningkat, Disnaker Subang memastikan pihaknya akan terus memperkuat layanan perlindungan, pendampingan, dan edukasi bagi calon pekerja migran maupun keluarga mereka.(cdp/ysp)
