Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Sejarah Tanjungsiang Kabupaten Subang: Dari Kademangan Batu Sirap hingga Menjadi Kecamatan di Pegunungan

R
Rian AlfianEditor: Rian Alfian
|12:00 WIB
Bagikan:
Sejarah Tanjungsiang Kabupaten Subang: Dari Kademangan Batu Sirap hingga Menjadi Kecamatan di Pegunungan
Monumen Perjuangan 45 Ciseupan Desa Cibuluh Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang

SUBANG - Di balik udara sejuk, hamparan perkebunan, perbukitan hijau, dan kehidupan masyarakat yang lekat dengan tradisi Sunda, Tanjungsiang menyimpan cerita panjang yang jauh lebih tua daripada sekadar statusnya sebagai sebuah kecamatan.

Sejarah Tanjungsiang Kabupaten Subang

Bagi banyak orang, Tanjungsiang mungkin dikenal sebagai salah satu kawasan pegunungan di Kabupaten Subang. Namun, jika sejarahnya ditelusuri lebih jauh, wilayah ini ternyata pernah menjadi bagian dari perjalanan pemerintahan tradisional, perkembangan Islam, perjuangan melawan penjajahan, hingga proses panjang pembentukan administrasi modern.

Jejak tersebut membuat Tanjungsiang bukan hanya sebuah wilayah di selatan Subang, tetapi juga ruang yang menyimpan potongan sejarah lokal yang menarik untuk terus digali.

Dari Batu Sirap, Jejak Pemerintahan Lama Tanjungsiang

Salah satu catatan sejarah resmi Kecamatan Tanjungsiang menyebutkan bahwa pada 1903, kawasan Sirap dikisahkan telah menjadi Kademangan Batu Sirap. Wilayah tersebut berada dalam lingkungan kekuasaan yang berkaitan dengan Sumedang Larang.

Kademangan pada masa itu memiliki kedudukan yang kurang lebih menyerupai wilayah pemerintahan kecamatan. Dalam catatan tersebut, pemerintahan Batu Sirap dipimpin secara berturut-turut oleh Demang Rangga I hingga Demang Rangga III. 

Menariknya, dari perjalanan seorang demang kemudian muncul julukan yang cukup unik: Demang Bako.

Demang Rangga III yang kemudian berpindah ke Cisalak disebut menjadi tokoh yang mendorong penanaman tembakau di kawasan Cisalak dan Tanjungsiang. Tradisi tembakau inilah yang kemudian membuat kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu daerah penghasil tembakau. 

Jadi, jauh sebelum Tanjungsiang dikenal dengan potensi wisata alam dan pertaniannya, wilayah ini telah memiliki cerita mengenai komoditas pertanian yang menjadi bagian dari denyut ekonominya.

Tanjungsiang dan Perjalanan Menjadi Kecamatan

Perjalanan menuju status kecamatan ternyata berlangsung cukup panjang.

Pada 1953, wilayah Tanjungsiang disebut berubah menjadi Kamantren Tanjungsiang. Saat itu wilayahnya terdiri atas tujuh desa yang kemudian berkembang menjadi delapan desa. 

Tiga dekade kemudian, tepatnya pada 1983, Kamantren Tanjungsiang berubah menjadi Daerah Perwakilan Kecamatan Cisalak. Jumlah desa di dalamnya juga berkembang dari delapan menjadi 11 desa. 

Babak penting akhirnya tiba pada 23 Juli 1986.

Pada tanggal tersebut, Kamantren Tanjungsiang secara resmi diresmikan menjadi Kecamatan Tanjungsiang. Peresmian itu disebut dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat Yogi S. Memet, sementara Undang Sujana, BA, tercatat sebagai camat pertama. 

Pembentukan Kecamatan Tanjungsiang juga memiliki dasar hukum nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1986 mencatat pembentukan Kecamatan Tanjungsiang di Kabupaten Daerah Tingkat II Subang dengan wilayah awal yang mencakup 11 desa.

Dengan demikian, 1986 menjadi salah satu tahun paling penting dalam sejarah administratif Tanjungsiang.

Kantor Kecamatan Pertama Bukan di Lokasi Sekarang

Ada detail sejarah yang mungkin tidak banyak diketahui.

Setelah diresmikan sebagai kecamatan, kantor pemerintahan Tanjungsiang pertama kali disebut berada di Kampung Kawungluwuk, di samping Kantor Koramil Tanjungsiang.

Baru pada 1987 pembangunan kantor kecamatan dilakukan di wilayah Desa Sirap. Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Dalam sejarah lokal, Sirap diyakini memiliki keterkaitan dengan keberadaan Kademangan Batu Sirap pada masa sebelumnya. 

Dengan kata lain, lokasi pemerintahan modern Tanjungsiang seolah kembali ke salah satu titik penting dalam sejarah pemerintahan lamanya.

Nama Desa di Tanjungsiang Juga Menyimpan Cerita

Sejarah Tanjungsiang tidak hanya dapat ditelusuri dari dokumen pemerintahan.

Penelitian mengenai toponimi wilayah Subang menunjukkan bahwa nama-nama desa di Kecamatan Tanjungsiang banyak berkaitan dengan fenomena alam dan unsur flora. Pola ini menjadi salah satu ciri khas penamaan wilayah di Subang bagian selatan. 

Bahkan, Tanjungsiang memiliki cerita rakyat yang berasal dari Desa Sirap, yakni kisah Eyang Rangga Wayang dan Ki Durgala.

Cerita semacam ini menunjukkan bahwa sejarah sebuah wilayah tidak selalu tersimpan dalam arsip pemerintahan. Sebagian justru hidup melalui cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dari Pesantren hingga Jejak Perjuangan

Tanjungsiang juga memiliki bagian penting dalam sejarah perkembangan Islam dan perjuangan masyarakat.

Desa Tanjungsiang tercatat memiliki sejarah perkembangan Islam yang ditandai dengan keberadaan langgar, masjid, kegiatan pengajian, serta tradisi keagamaan masyarakat. Kawasan ini juga dikenal memiliki jejak perjuangan rakyat pada masa kolonial. 

Salah satu tokoh yang memiliki kaitan kuat dengan sejarah kawasan Tanjungsiang adalah KH Muhyiddin atau Mama Pagelaran. Ia mendirikan Pondok Pesantren Pagelaran I di Cimeuhmal sekitar 1920. Pesantren tersebut tidak hanya menjadi tempat pendidikan agama, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan perjuangan rakyat pada masa revolusi. 

Jejak perjuangan itu bahkan tercatat dalam penelitian sejarah mengenai Pertempuran Ciseupan di Kecamatan Tanjungsiang pada 4 Februari 1949. Peristiwa tersebut menjadi salah satu episode sejarah lokal yang menunjukkan bahwa wilayah Tanjungsiang ikut menjadi bagian dari pergolakan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

Tanjungsiang Hari Ini: Sejarah yang Berubah Menjadi Identitas

Kini Tanjungsiang berkembang sebagai kawasan yang tidak hanya mengandalkan pertanian, tetapi juga memiliki potensi budaya, kerajinan, dan wisata.

Kerajinan golok, misalnya, menjadi salah satu identitas masyarakat setempat. Desa Tanjungsiang bahkan pernah mencatat perhatian publik melalui pembuatan golok berukuran sangat panjang pada 2017. Selain itu, masyarakat juga mempertahankan kerajinan tradisional seperti se'eng atau dandang dan kasur. 

Kondisi geografis pegunungan juga memberikan wajah tersendiri bagi Tanjungsiang. Perbukitan, hutan, lembah, lahan pertanian, serta sungai membentuk kehidupan masyarakat yang hingga kini masih erat dengan alam.

Di titik inilah sejarah dan masa kini bertemu.

Tanjungsiang yang dahulu memiliki jejak Kademangan Batu Sirap, pernah menjadi Kamantren, kemudian Daerah Perwakilan Kecamatan Cisalak, akhirnya berdiri sebagai kecamatan sendiri pada 1986.

Bukan Sekadar Nama di Peta

Sejarah Tanjungsiang pada akhirnya bukan sekadar rangkaian tahun dan pergantian status pemerintahan.

Di dalamnya terdapat kisah tentang Batu Sirap, Demang Bako, tembakau, pesantren, perjuangan kemerdekaan, cerita rakyat, kerajinan tradisional, hingga masyarakat yang mempertahankan budaya di tengah perubahan zaman.

Itulah yang membuat Tanjungsiang memiliki cerita berbeda.

Sebuah kecamatan di selatan Subang yang hari ini terlihat tenang ternyata menyimpan lapisan sejarah yang panjang. Dan semakin jauh ditelusuri, semakin terlihat bahwa setiap kampung, nama desa, jalan, serta tradisi di Tanjungsiang memiliki kemungkinan menyimpan cerita yang belum sepenuhnya terungkap.

Tanjungsiang bukan hanya tempat yang dilewati. Ia adalah bagian dari sejarah Subang yang masih hidup.

Berita Terbaru

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Resmi Disahkan, Ini 9 Hak Penting yang Kini Diatur untuk Buruh

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Resmi Disahkan, Ini 9 Hak Penting yang Kini Diatur untuk Buruh

Nasional8 menit lalu
Jadwal TKA SMA/SMK 2026, Catat Pelaksanaannya!

Jadwal TKA SMA/SMK 2026, Catat Pelaksanaannya!

Lifestyle46 menit lalu
Mantan Sekdes Ace Safei Maju Pilkades Jalancagak, Usung "Jalancagak Juara"

Mantan Sekdes Ace Safei Maju Pilkades Jalancagak, Usung "Jalancagak Juara"

Subang1 jam lalu
Imbas Temuan Klaster Mewah di Area Lapas, Kemenimipas Copot Kalapas Cibinong

Imbas Temuan Klaster Mewah di Area Lapas, Kemenimipas Copot Kalapas Cibinong

Nasional2 jam lalu
ADVERTISEMENT
Gelar Perdana Sudah Diraih, Ini Agenda Timnas Indonesia setelah FIFA ASEAN Cup 2026

Gelar Perdana Sudah Diraih, Ini Agenda Timnas Indonesia setelah FIFA ASEAN Cup 2026

Olahraga2 jam lalu
Pemerintah Pastikan Konser Israel Houghton di Indonesia Tak Berizin

Pemerintah Pastikan Konser Israel Houghton di Indonesia Tak Berizin

Nasional3 jam lalu
Putusan MK Ijazah Gibran Hari Ini, Ini Jadwal dan Pokok Perkaranya

Putusan MK Ijazah Gibran Hari Ini, Ini Jadwal dan Pokok Perkaranya

Nasional3 jam lalu
Anak Harus Tempuh Jalan Terjal 2,5 Kilometer ke Sekolah dari Gunung Solok Pandan, Pemkab Bandung Barat Siapkan Solusi untuk 3 Keluarga

Anak Harus Tempuh Jalan Terjal 2,5 Kilometer ke Sekolah dari Gunung Solok Pandan, Pemkab Bandung Barat Siapkan Solusi untuk 3 Keluarga

Bandung Barat3 jam lalu
Koordinator BEM UI Diserang Orang Tak Dikenal, Polisi Turun Tangan

Koordinator BEM UI Diserang Orang Tak Dikenal, Polisi Turun Tangan

Nasional3 jam lalu
2.251 Anggota BPD Karawang Dilantik, Ketua Komisi I Tekankan Amanah dan Sinergi dengan Kepala Desa

2.251 Anggota BPD Karawang Dilantik, Ketua Komisi I Tekankan Amanah dan Sinergi dengan Kepala Desa

Karawang3 jam lalu