Pemprov Jabar Diminta Segera Realisasikan Pembangunan Balai Pinton

BANDUNG BARAT - Pemerintah Desa Ciburuy berharap Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera merealisasikan pembangunan Balai Pinton di kawasan Situ Ciburuy yang sebelumnya dibongkar saat penataan kawasan. Ketiadaan fasilitas tersebut dinilai membuat aktivitas seni dan budaya di Ciburuy mengalami stagnasi.
Sekertaris Desa Ciburuy, Yadi Hendradi, menjelaskan, para budayawan dan seniman telah lama memperjuangkan keberadaan kembali Balai Pinton. Bahkan pada 2023, budayawan dari Ciburuy, Padalarang, dan Kabupaten Bandung Barat pernah beraudiensi dengan Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Provinsi Jawa Barat untuk meminta agar Situ Ciburuy diposisikan sebagai kawasan yang juga memiliki nilai budaya.
"Ketika penataan Situ Ciburuy dilakukan pada 2021 sampai 2023, tempat para budayawan dan seniman mengekspresikan karya, yakni Balai Pinton, ikut dibongkar. Saat itu para seniman sempat melakukan audiensi dan menyampaikan aspirasi kepada pemerintah provinsi," ujarnya.
Menurutnya, hingga kini pembangunan kembali Balai Pinton memang belum terealisasi. Namun, pihak DSDA Provinsi Jawa Barat telah menyampaikan rencana pembangunan kembali fasilitas tersebut pada 2027. "Informasi yang kami terima, konsultan perencanaannya sudah ada. Tinggal masuk ke tahap pekerjaan atau pelelangan. Mudah-mudahan bisa direalisasikan pada 2027," katanya.
Selama belum tersedia Balai Pinton, para seniman memanfaatkan balai jongko yang besar sebagai tempat latihan. Sementara untuk pementasan seni, Pemerintah Desa Ciburuy masih mengandalkan panggung sementara di Lapang Tumaritis atau halaman kantor desa saat peringatan hari besar maupun hari jadi desa.
"Kami berharap Balai Pinton segera dibangun kembali. Harapan kami Ciburuy bisa menjadi salah satu pusat kegiatan seni dan budaya, minimal di Kabupaten Bandung Barat," katanya.
Di sisi lain, pemerintah desa menilai penataan kawasan bantaran Situ Ciburuy tetap memiliki manfaat bagi masyarakat. Penertiban bangunan liar dinilai dapat mengurangi kekumuhan sekaligus membuka peluang pengembangan kawasan wisata.
"Kalau penataan bantaran situ memang kami mendukung karena bisa mengurangi kawasan kumuh. Yang menjadi perhatian adalah sebagian besar warga yang tinggal di bantaran merupakan masyarakat berpenghasilan rendah. Karena itu kami juga mendorong agar relokasi dilakukan dengan baik," ujarnya.
Ia menilai apabila penataan kawasan dilakukan secara menyeluruh, Situ Ciburuy berpotensi berkembang menjadi destinasi wisata, bukan sekadar lokasi persinggahan.
"Kalau ditata dengan baik, masyarakat juga akan mendapat manfaat ekonomi. UMKM bisa berkembang dan warga bisa memanfaatkan peluang usaha dari meningkatnya kunjungan wisata," katanya.
Meski demikian, hilangnya Balai Pinton membawa dampak terhadap aktivitas seni budaya. Berbagai agenda yang sebelumnya rutin digelar di kawasan Situ Ciburuy kini jauh berkurang. "Dulu kami sering mengadakan pasanggiri dan berbagai pentas seni Sunda di Situ Ciburuy. Sekarang bukan hilang, tetapi menjadi tersendat atau stagnan karena fasilitasnya tidak ada," ujarnya.
Ia menegaskan kelompok-kelompok seni seperti tari jaipong, pencak silat, hingga reog masih tetap eksis dan berlatih secara rutin. Namun, keterbatasan fasilitas membuat ruang berekspresi dan penyelenggaraan pertunjukan menjadi tidak optimal.
Pemerintah Desa Ciburuy berharap pembangunan kembali Balai Pinton dapat menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat sehingga kegiatan seni dan budaya yang selama ini menjadi identitas kawasan Situ Ciburuy dapat kembali berkembang.(ijr/sep)
