Hidup Dalam Ancaman Banjir Rob, Masyarakat Desa Anggasari Minta Solusi Konkret Pemda Subang

PASUNDANEKSPRES.ID - Masyarakat Desa Anggasari Kecamatan Sukasari harus menghadapi kenyataan banjir rob. Permasalahan ini sudah berlangsung lama. Mereka menanti solusi konkret dari pemda untuk mengatasi persoalan tersebut.
Berdasarkan data dari BPBD Subang tahun 2025, terdapat 489 KK dengan 1467 jiwa yang terdampak banjir rob.
Adapun jumlah rumah yang terdampak yakni sebanyak 413 rumah dengan kondisi 182 rusak berat dan 231 rusak sedang.
Selain itu, sebanyak 40 sawah dan 443 tambak juga terdampak banjir rob di Desa Anggasari.
Salah satu warga sekitar, Asep Aminudin atau biasa disapa Mang Pepe menyebutkan, meskipun tidak hujan, wilayahnya tersebut tetap berpotensi kebanjiran karena air laut yang meluap.
"Sekarang biasanya banjir dari hulu, sekarang dari hilir disebabkan pasang air rob yang tidak beraturan," ucapnya pada Pasundan Ekspres.
Berangkat dari sana, ia mengajak masyarakat sekitar pesisir untuk dapat menjaga lingkungan sekitar dengan berbagai upaya.
"Kami mengajak masyarakat sekitar untuk berbenah diri dengan melakukan pemungutan sampah, memberikan sampah edukasi agar tidak buang ke kali, serta penanaman mangrove," ucapnya.
Pepe menambahkan, pasca adanya kejadian banjir yang tidak menentu, warganya mencoba untuk membiasakan menanam mangrove sendiri, terutama kepada petani tambak.
"Hal ini karena hasil dari menanam mangrove bagus untuk kesejahteraan. Para petani tambak bisa mencari nafkah di tempat tersebut," ucapnya.
Dirinya mengungkapkan, warga Desa Anggasari telah meminta kepada pemerintah daerah untuk mendapatkan solusi dari bencana alam ini.
"Kami meminta pihak pemerintah dapat melihat kondisi alam di area pesisir ini yang nyatanya sudah rusak," ucapnya.
Oleh sebab itu, ia berharap Pemkab subang dapat segera memberikan solusi pada masyarakat pesisir sehingga dapat hidup dengan aman.
"Semoga pemerintah daerah dapat segera meninjau tanggul-tanggul pesisir yang terendam air untuk dapat dibenahi," ucapnya.
Sebelumnya, Kepala Desa Anggasari, Sukendi, mengungkapkan, permasalahan air laut juga telah menghambat produktivitas pertanian di desanya secara signifikan.
“Desa saya saat ini terbelenggu persoalan air asin seluas kurang lebih 326 hektare. Selama hampir lima tahun, warga tidak bisa menanam padi,” ujar Sukendi kepada Pasundan Ekspres.
Ia menjelaskan, dari total 562 hektare lahan sawah yang dimiliki desa, kini hanya sekitar 236 hektare yang masih bisa digarap. Kondisi itu disebabkan oleh tanggul yang rusak akibat abrasi air laut dan pasang surut yang terus terjadi setiap tahun.
Ia menambahkan, pihaknya telah beberapa kali berdialog dengan Bupati Subang agar permasalahan ini segera ditangani secara menyeluruh, mengingat dampaknya sangat besar terhadap ekonomi masyarakat pesisir.
“Saya sudah membicarakan langsung dengan Pak Bupati agar ada penanganan serius untuk persoalan ini,” ujarnya berharap.
Sukendi menegaskan, masyarakat Anggasari hanya menginginkan solusi nyata agar mereka bisa kembali menanam padi seperti dulu.
“Kami berharap permasalahan air asin ini segera diatasi. Masyarakat sudah terlalu lama kesusahan,” pungkasnya.(fsh/ysp)
