Pojokan 316: Jika Tiba Saatnya

Pojokan 316: Jika Tiba Saatnya
Nak, doa orang tua itu bukan sekadar bisikan lirih di sajadah. Ia lebih mirip jam dinding tua di ruang tamu: kadang telat lima menit, kadang bunyinya serak, tapi tetap jadi penanda waktu. Abi-umi, ayah-bunda, ema-bapak—silakan pilih sesuai dialekmu—akan terus menyalakan doa, bahkan ketika suara kami sudah kalah oleh dengung kipas angin tua. Kasih sayang kami, jangan kau kira seperti saldo rekening atau kuota internet yang bisa habis; ia lebih mirip mata air: kadang keruh, kadang surut, tapi tak pernah kering.
Ketika kau lahir, dunia kami seperti pasar malam: riuh, penuh lampu, dan ada rasa ingin membeli semua kebahagiaan. Rewelmu, pupmu, nangismu, tertawamu—itu semua adalah tiket masuk kami ke wahana roller coaster bernama “parenting.” Dan ketika kau sekolah, kami jadi tukang ojek paling setia: mengantar, menunggu, kadang sambil ngopi di warung depan gerbang.
Nak, kau adalah rajawali kami. Tapi ingat, rajawali bukan burung pipit. Ia butuh sayap yang kuat, bukan sekadar bulu indah untuk dipamerkan di Instagram. Modalmu bukan hanya ijazah laminating, tapi akhlak yang mapan, integritas yang tak bisa digadaikan, akar budaya yang tak gampang dicabut, ekonomi yang tak sekadar numpang lewat, nurani yang peka, dan wawasan seluas cakrawala. Itu bekal agar kau tak jadi rajawali yang tersesat di kandang ayam. Segenap jiwa raga kami-orang tuamu, akan berusaha agar kalian bisa memiliki modal ini. Walau kami bukan orang punya.
Namun, ada satu hal yang sering dilewatkan rajawali muda: lupa pada sarangnya sebagai bandara tempat pertama terbang. Rajawali boleh terbang ke mana saja, tapi ia tetap butuh landasan untuk pulang. Orang tua adalah sarang itu. Sayangnya, banyak rajawali yang sibuk mengepakkan sayap ke langit karier, ke awan ambisi, ke kabut gengsi, lalu lupa bandara awal, tempat pertama belajar mengepakkan sayap.
Pojokan 316: Jika Tiba Saatnya
Kalian akan memiliki duniamu sendiri. Namun jangan pernah lupa dengan orang tua dan saudaramu, dimana pun, kapan pun dan kau hidup dengan siapapun. Sebab mereka adalah akar kehidupanmu. Jangan pernah kalian melupakan dari mana asal-usulmu, akar kehidupanmu. Akar itu tak pernah ikut pindah rumah. Orang tua dan saudara adalah tanah tempat awal kau berdiri. Jangan sampai kau jadi pohon bonsai: indah dipajang, tapi tercerabut dari tanah asalnya.
Andai tiba waktunya, kami menjadi tua bersama dengan segala keuzuran yang jadi perhiasan hidup kami -- walau kami tak ingin merepotkan dan membebani kalian semua, uruslah kami dengan sabar. Sampaikan kepada pasangan hidupmu, kepada anak-anakmu-cucu kami, agar ihlas dan sabar mengurus kami. Tengoklah kami jika kalian berada jauh dari rumah. Kebahagiaan kami sederhana: melihat senyum kalian untuk kami, meski gigi kami tinggal dua.
Kami pernah melihat tetangga kami, sebut saja Mak Ijah, duduk di kursi goyangnya, menatap pintu rumah yang tak pernah diketuk anak-anaknya. Mereka sibuk di kota, sibuk di kantor, sibuk di mall. Mak Ijah hanya ditemani radio tua yang suaranya lebih sering berdesis daripada menyanyi. Nak, jangan sampai rumahmu jadi seperti itu: bandara yang ditinggalkan, lampu landasan - silaturami, padam, dan menara kontrol-orang tua, hanya dihuni kesepian.
Nak, doa dan restu kami ini bukan sekadar kata-kata. Ia adalah bensin yang membuat rajawali bisa terbang. Tapi ingat, bensin itu tak bisa diisi ulang kalau pompa bensinnya kau abaikan. Doa orang tua, percayalah, tak pernah pensiun. Tapi jangan sampai doa itu hanya jadi monolog di kamar sepi, sementara anak-anaknya sibuk mantengin kehidupan maya di gadget. Maafkan aku abah-emih, bapak-ibu, tak selalu menemani kalian dimasa tuamu. (#Kang Marbawi, 010826)
